Skripsi Literatur

DAKWAH SOSIAL JALALUDDIN RAKHMAT

 


SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)


Oleh:

INDRA TRISNAJAYA

0721015

Jurusan: Dakwah

Program Studi : Bimbingan Penyuluhan Islam

 

Kepada:

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

 SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK

BANGKA BELITUNG

2011

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai suatu agama yang paripurna tentunya Islam mengajarkan sistem kehidupan yang berisi tata nilai, norma dan kaidah-kaidah yang mengatur pola kehidupan segenap umat manusia. Islam mengajarkan ajaran yang manusiawi, adil, inklusif dan egaliter yang didasari secara strict oleh paham Ketuhanan Yang Maha Esa (tauhid) dan etika.[1] Egaliter di sini maksudnya adalah paham bahwa manusia semuanya sama, dan itu adalah ciri dari ajaran Islam yang sangat kuat.[2] Selain itu ajaran Islam merupakan ajaran yang bersifat universal dan ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa agama itu berlaku untuk seluruh alam raya, termasuk untuk seluruh umat manusia.[3]

Karena prinsip Islam yang berisi ajaran manusiawi dan universal, tentu dalam aspek praktisnya harus mengedepankan ukhuwah dan persatuan di kalangan umatnya. Hal inilah yang dipraktekkan Rasulullah dalam usahanya menegakkan Islam. Rasulullah merupakan sosok yang berhasil mengubah cara pergaulan hidup manusia. Hal ini diwujudkannya dalam mengubah masyarakat Arab yang ketika itu berada pada keadaan jahiliyah hingga menjadi masyarakat yang mampu mengubah peradaban dunia. Dalam menjalankan revolusi[4] tersebut, Rasulullah tidak melupakan asas-asas demokratis tentang persamaan dan persaudaraan, demikian halnya dengan asas-asas sosial.[5]

Agama Islam juga agama yang berpegang pada nilai akal.[6] Ini berarti sebagai umat yang dikarunia akal, manusia harus senantiasa mempergunakan segenap potensi akal guna mencapai tujuan hidup yang berlandaskan aturan syariat Islam. Bukankah Al-Qur’an berulangkali menyuruh umat Islam untuk berpikir menggali ayat-ayat Allah dengan kekuatan nalar? Tanpa pengetahuan yang luas, tanpa pemikiran rasional, maka banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak bisa dipahami dan kebesaran Allah tidak terlihat.[7] Umat diharuskan berpikir kritis demi kemajuan hidup di segala bidang, terlebih pada pemberdayaan umat dan aspek sosial. Namun dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat haruslah memperhatikan masalah akhlak yang merupakan hal terpenting dari ajaran Islam. Akhlaklah yang membuat manusia menjadi umat yang sesungguhnya, yaitu umat yang menampilkan wajah Islam yang indah.

Maka untuk mewujudkan cita-cita sosial Islam seperti yang telah dikemukakan tersebut, dakwah mutlak diperlukan sebagai suatu ikhtiar untuk menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Dakwah menjadi keharusan untuk mencapai semua tujuan yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam yang ingin dikehendaki bersama. Tujuannya agar tercipta individu, keluarga (usrah) dan masyarakat (jama’ah) yang menjadikan Islam sebagai pola hidup[8] sekaligus memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap lingkungan masyarakatnya.

Jadi, berdasarkan hal tersebut, penulis memandang bahwa dakwah sebagai suatu keniscayaan yang penting dalam rangka mensosialisasikan nilai-nilai universal Islam sekaligus membangun tatanan bangunan kehidupan sosial dalam masyarakat. Tentunya dalam usaha penyampaian tersebut kita memerlukan metode ataupun pendekatan dakwah yang relevan dengan situasi serta kondisi masyarakat.

Metode dakwah merupakan cara-cara penyampaian dakwah, baik secara individu, kelompok, maupun masyarakat luas agar pesan-pesan dakwah tersebut mudah diterima. Di samping metode dakwah yang tersurat pada QS. An Nahl:125[9], para pelaku dakwah atau da’i juga menerapkan bentuk pendekatan dakwah, yaitu: dakwah al-lisan yang umum dikenal dengan ceramah, dakwah al-qalam (dakwah melalui tulisan, media cetak), dan dakwah bi al-hal (dakwah dengan amal nyata).[10]

Dakwah al lisan dan al qalam adalah bentuk pendekatan dakwah yang paling sering kita jumpai dan juga sering digunakan para da’i dalam berdakwah. Hal ini bisa dibuktikan dengan ramainya aktivitas ceramah baik itu secara langsung antara da’i dengan mad’u-nya maupun ceramah agama yang setiap hari ada di televisi. Begitu juga dengan dakwah al qalam yang sering  dijumpai di buku-buku keislaman, majalah, tabloid serta rubrik dakwah di berbagai media cetak dan elektronik. Umumnya materi yang dibahas dalam dua bentuk pendekatan dakwah tersebut adalah seputar keimanan, ibadah-ibadah ritual yang mengedepankan paradigma fikih.[11]

Sedangkan bentuk pendekatan dakwah bi al-hal cenderung minim disuarakan dan dilakukan oleh pelaku dakwah dan juga masyarakat. Para mubaligh atau da’i saat ini jarang menggunakan pendekatan dakwah bil qolam dalam menyuarakan pentingnya dakwah sosial dalam Islam. Padahal menurut Kuntowijoyo banyak umat di kalangan bawah memerlukan sesuatu yang konkret, yaitu dakwah bi al hal. Dakwah inilah yang merupakan dakwah dengan amal konkret yang diwujudkan dalam bentuk akhlak yang baik dalam berperilaku dan juga menampilkan sosok Muslim yang tidak hanya shaleh secara individual, tetapi juga memiliki keshalehan sosial.

Dalam Islam, rupanya yang konkret itu menempati  posisi yang mulia. Di dalam Al-Qur’an terdapat 25 ayat yang menghubungkan shalat dengan zakat. Selain itu banyak juga ayat yang menghubungkan shalat dengan menafkahkan harta, iman dan amal shaleh, dan sebagainya. Kuntowijoyo mencontohkan, dalam banyak pemilu, umat selalu disuguhi oleh jurkam tema-tema hukum dan akhlak. Betapapun pentingnya isu itu, kalangan bawah umat akan lebih tertarik dengan yang konkret. Karena itu pula dakwah Islam harus bergeser. Meskipun dakwah bil al lisan tetap diperlukan, dakwah bi al hal harus menjadi yang utama, terlebih pada kalangan bawah. Dakwah bi al hal lebih menyentuh umat berada di bawah, daripada ceramah konvensional.[12]

Pendapat Kuntowijoyo ini memang sangat dekat dengan realitas umat yang sedang terjadi pada saat ini, hingga dia menganjurkan adanya pergeseran pendekatan dakwah yang menurutnya penting untuk dilakukan oleh para juru dakwah. Di masyarakat sekarang ini, walaupun dakwah telah sering dilakukan dalam berbagai pendekatan, namun menurut penulis masih banyak menyisakan masalah. Terutama masalah yang menyangkut sisi sosial hubungan antar masyarakat. Semangat Islam untuk membentuk masyarakat yang adil, egaliter dan terbebas dari segala bentuk penindasan sepertinya memerlukan waktu yang sangat lama untuk segera terwujud. Hal ini cukup beralasan apabila melihat praktik keberagamaan yang terjadi sekarang ini.

Kebanyakan umat Islam saat ini memaknai ajaran Islam dengan wujud keshalehan individual saja. Lebih miris lagi, mungkin sebagian dari kita —terlebih lagi jika mempunyai kekuasaan dan kekayaan — hanya menganggap dan memahami pola keberagamaan secara simbolik saja. Agama diaplikasikan melalui ritus-ritus belaka yang kering dengan nilai substantif dan moral.

Kita juga sering dihadapkan pada orang-orang yang rajin ibadah kepada Allah namun orientasi hidupnya hanya mengejar harta. Orang-orang seperti inilah yang acap kali disinggung Jalaluddin Rakhmat:

Jangan-jangan orang-orang berduit kita sudah menjadi Qarun, yang rakus mengumpulkan dunia dengan tidak peduli halal dan haram. Demi duit, kita tak ragu-ragu menghantam, menyakiti, bahkan membunuh sesama saudara kita. Jangan-jangan para cerdik pandai kita sudah menjadi Haman, yang mempersembahkan kecerdasannya untuk mengabdi kepada kezaliman. Kecerdikan kita pergunakan untuk meliciki orang banyak. Kepintaran kita manfaatkan untuk memintari orang-orang bodoh.[13]

Diakui atau tidak, terkadang mudah menemukan tipe beragama orang yang individualistik. Mari menyimak pendapat Jalaluddin Rakhmat yang mengecam orang-orang yang menganggap ajaran Islam semata merupakan bentuk shaleh secara individual namun berakhlak buruk serta melupakan tanggung jawab sosialnya sebagai umat:

Di masjid, kita membesarkan Allah. Di luar masjid kita menyepelekan Dia. Di masjid, seluruh anggota badan kita pergunakan untuk beribadah kepada Tuhan. Di luar masjid, kita menggunakannya untuk bermaksiat kepadaNya. Tangan-tangan yang kita angkat dalam doa-doa kita adalah juga tangan-tangan yang bergelimang dosa. Lidah-lidah yang kita getarkan untuk menyebut asma Allah yang suci adalah juga lidah-lidah yang berlumuran kata-kata kotor. Kepala yang kita rebahkan dalam sujud adalah juga kepala yang kita dongakkan dengan sombong di hadapan hamba-hamba Allah.[14]

Keberagamaan seperti inilah yang menjadi alasan hadirnya kritik Jalaluddin Rakhmat terhadap mereka yang melupakan sisi sosial dalam menjalankan ajaran agama. Ia merasa berkewajiban untuk berdakwah melalui tulisan-tulisannya (dakwah bil qolam) sekaligus mengkritisi ketimpangan dan gap sosial yang terjadi pada umat sekarang. Beliaulah yang menyuarakan betapa pentingnya dakwah melalui perbuatan langsung yang mempunyai nuansa sosial. Karena menurutnya, tema sosial dalam berdakwah menempati posisi yang sangat strategis jika dikaitkan dengan kondisi keberagamaan masyarakat sekarang.

Ia menilai bahwa saat sekarang ini – seperti yang banyak dijelaskannya dalam Reformasi Sufistik dan Islam Aktual – masyarakat umumnya merasa sombong dengan sholat malam, merdunya bacaan Qur’an, ibadah haji dan umroh yang berkali-kali dilakukan sehingga lupa dengan akhlaknya di tengah-tengah masyarakat. Jalaluddin Rakhmat mengecam orang-orang yang merasa bangga dengan puasa sunnah yang rutin dilakukan namun melupakan fakir miskin yang ada di sekitarnya.

Inilah bentuk keberagamaan sebagian besar dari umat saat ini yang hanya mengedepankan aspek lahiriah. Umumnya umat Islam sekarang sudah merasa cukup dengan hanya beribadah kepada Allah. Sholat, puasa, haji,  ditegakkan. Ditambah puasa sunnah, sholat malam, membaguskan bacaan Qur’an sudah membuatnya  merasa shaleh. Namun hal terpenting akan ajaran agama telah dihilangkan. Kita lupa bahwa sholat tak ada artinya bila tidak mencegah kekejian dan kemungkaran. Haji kita tak bermakna bila kita tidak meninggalkan rumah kita yang sempit (egoisme) dan tidak mengarahkan seluruh kehidupan kita ke rumah Tuhan.

Corak keagaman tersebut menurut perspektif penulis sangat penting untuk segera diperbaiki. Apalagi kurangnya para da’i- da’i yang sering kita saksikan secara langsung atau di televisi yang menyinggung masalah sosial umat seperti ini. Dakwah yang mereka lakukan umumnya masih berkutat dengan masalah hukum Islam, tentang halal dan haram. Mengajarkan umat untuk tabah dan sabar  menghadapi datangnya musibah dan cobaan hidup tanpa memberikan solusi konkret. Padahal umat sekarang ini membutuhkan figur mubaligh, da’i sekaligus pemikir Islam yang bisa menyuarakan derita umat-umat tertindas yang bisa menyadarkan umat Islam dari pola keberagamaan individualistik yang kering pesan moral dan sosial serta yang peduli akan hak-hak orang miskin.

Di saat umat kehilangan kepekaan sosial yang seharusnya menjadi identitas Muslim sejati; dan saat umat lebih mengutamakan keshalehan individual dengan mengenyampingkan aspek sosial; serta umat cenderung mengaplikasikan ajaran Islam yang bernuansa simbolik, salah seorang pemikir kontemporer sekaligus mubaligh Islam hadir guna mengisi minimnya ajaran keshalehan sosial tersebut.

Adalah Jalaluddin Rakhmat datang untuk kembali mengingatkan kepada kita akan pentingnya keshalehan sosial yang hampir kering maknanya pada umat Islam sekarang ini. Jalaluddin Rakhmat – yang selanjutnya penulis sebutkan dengan nama Kang Jalal – sangat kritis dalam menyuarakan pentingnya sikap peduli dengan kaum mustad’afin. Beliau tampil di garis depan sebagai mubaligh yang mengkritik keberagamaan simbolik masyarakat sekarang, masyarakat yang kurang respect terhadap segala bentuk penindasan, kezaliman dalam bentuk apapun yang dihadiahkan kepada kaum yang lemah. Ia adalah salah seorang yang ikut prihatin dan sedih tatkala menyadari penderitaan kaum yang lemah akibat arogansi dan kesewenangan penguasa. Hal tersebutlah yang menjadi semangat beliau dalam menyiarkan ragam bentuk dakwah sosial di berbagai bukunya yang banyak berisi kritik sosial di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Hingga penulis merasa penting secara akademik dan tanggung jawab moral untuk mengangkat masalah ini dalam bentuk penelitian yang berjudul : “DAKWAH SOSIAL JALALUDDIN RAKHMAT”

B. Rumusan Masalah

Dakwah sosial merupakan salah satu aspek yang banyak dibicarakan Kang Jalal dalam berbagai bukunya. Hal tersebut menjadi setetes hikmah yang mengisi kehampaan sisi sosial masyarakat yang minim disorot oleh para mubaligh saat ini dan tentu  juga sebagai bentuk kritik konstruktif terhadap pola keberagamaan masyarakat sekarang.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan tersebut, penulis telah merumuskan dua permasalahan utama. Namun perlu diketahui bahwa pemikiran Kang Jalal yang penulis ulas ini berdasarkan buku-bukunya dari tahun 80-an sampai 90-an yang banyak menyuarakan kritik sosial dan dakwah sosial. Selain itu penulis juga mengemukakan pemikiran Kang Jalal yang terdapat pada karya-karyanya sampai saat ini yang masih menyinggung tema-tema dakwah sosial. Adapun rumusan masalah yang penulis kemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah konstruksi pemikiran dakwah sosial Jalaluddin Rakhmat?
  2. Bagaimana signifikansi pemikiran dakwah sosial Jalaluddin Rakhmat terhadap keberagamaan umat sekarang?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

a. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan keinginan-keinginan peneliti atas hasil penelitian dengan mengetengahkan indikator-indikator apa yang hendak ditemukan dalam penelitian.[15] Jadi berdasarkan pengertian tersebut, tujuan akademis dari penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui bagaimana konstruksi pemikiran dakwah sosial Jalaluddin Rakhmat.
  2. Untuk mengetahui signifikansi dakwah sosial Jalaluddin Rakhmat terhadap keberagamaan umat saat ini.

b. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan, serta untuk menjelaskan tentang manfaat dari penelitian yang dilakukan peneliti.[16]

  1. Penelitian ini diharapkan berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam, khususnya di bidang ilmu dakwah.
  2. Penelitian ini juga diharapkan bisa menjadi bahan masukan bagi pola keberagaman masyarakat menuju keberagamaan yang tidak hanya shaleh secara individual, tetapi juga memiliki keshalehan sosial yang tinggi.
  3. Selain itu penelitian ini diharapkan berguna sebagai referensi dan masukan kepada penelitian berikutnya yang mengulas mengenai pemikiran Jalaluddin Rakhmat.

 

D. Telaah Pustaka

Studi yang mengulas pemikiran Jalaluddin Rakhmat pernah dilakukan oleh seorang mahasiswa pasca sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rosyidi.[17] Namun,  penelitian yang dilakukan Rosyidi ini lebih terfokus pada metode dakwah sufistik Kang Jalal. Tesis Rosyidi yang kini telah diterbitkan tersebut, banyak mengeksplor kajian tasawuf masyarakat perkotaan yang dahaga dengan hal spiritual.

Selain itu, studi pemikiran Jalaluddin Rakhmat juga pernah dilakukan oleh seorang mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Ali Murtadlo dengan judul “Neo Sufisme: Studi Atas Pemikiran Jalaluddin Rakhmat”[18] yang membedah kajian sufisme dan neo-sufisme. Dalam penelitian ini Ali Murtadlo ingin mengungkapkan bahwa pemikiran Kang Jalal mengenai sufisme dapat menjadi solusi mengatasi problem spiritualitas manusia. Dalam penelitiannya, Ali mengungkapkan bahwa Kang Jalal ingin memberikan perubahan arah prilaku dan pemikiran manusia, serta mengajak manusia untuk lebih menjaga akhlaknya. Dengan mengajak manusia untuk lebih menjaga akhlaknya, merupakan hal yang selaras dengan ajaran-ajaran yang terkandung dalam sufisme.

Imron Rosyadi, seorang mahasiswa tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pernah melakukan penelitian mengenai pemikiran Kang Jalal di bidang pendidikan dengan judul penelitian “Pemikiran Jalaluddin Rakhmat Tentang Pendidikan Islam: Kontribusinya Terhadap Materi dan Metode”.[19] Dalam kajiannya, Imron mengungkapkan pokok pemikiran pendidikan Islam Kang Jalal dan implikasinya terhadap pendidikan Islam di tanah air. Ia menjelaskan bahwa secara khas pemikiran Jalaluddin Rakhmat tentang pendidikan Islam mengisyaratkan bahwa pendidikan harus memperhatikan perpaduan antara tubuh dengan jiwa, manusia memiliki kemampuan hampir tidak ada batasnya, dimensi spiritual (mistikal), mampu memberikan pengetahuan baik substansi maupun proses, harus menanamkan sifat inklusif (terbuka) dan kritis, serta melatih peserta didik untuk menerima, mengolah, dan menyampaikan informasi.

Namun setelah penulis menelusuri penelitian-penelitian mengenai pemikiran Kang Jalal yang telah penulis kemukakan tersebut, penulis merasa ada aspek lain yang sangat penting dari sosok Kang Jalal yang tidak digali oleh mereka. Oleh karena itu penulis merasa berkepentingan secara akademik dan tertarik secara subjektif untuk mengangkat sisi lain dari ragam pemikiran Kang Jalal, yang menurut penulis sangat mencerahkan dan memberi motivasi lebih dalam menjalankan kehidupan beragama. Adapun sisi lain Kang Jalal yang penulis maksud adalah mengenai pemikiran dakwah sosial-nya yang banyak terserak di berbagai judul buah penanya.

 

 

 

E. Kerangka Teori

Dakwah adalah suatu keniscayaan dalam Islam. Ia dibutuhkan dalam upaya menggapai cita-cita Islam yang mulia. Quraish Shihab mendefinisikan dakwah sebagai berikut:

Dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik secara sempurna, baik terhadap pribadi ataupun masyarakat. Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha peningkatan pemahaman dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih luas. Apalagi pada masa sekarang ini, ia harus lebih berperan menuju kepada pelaksanaan ajaran Islam secara lebih menyeluruh dalam berbagai aspek.[20]

Menurut Amrullah Ahmad bahwa pada hakikatnya, dakwah Islam merupakan aktualisasi iman (teologis) yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk memengaruhi cara merasa, berpikir, bersikap dan bertindak pada dataran kenyataan individual dan sosiokultural dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan dengan menggunakan cara tertentu.[21]

Sedangkan menurut Ahmad Mubarok, dakwah sebagai pekerjaan menanam. Berdakwah juga mengandung arti mendidik manusia agar mereka bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai Islam. Mendidik adalah pekerjaan menanamkan nilai-nilai ke dalam jiwa manusia. Nilai-nilai yang ditanam dalam dakwah adalah keimanan, kejujuran, keadilan, kedisiplinan, kasih sayang, rendah hati dan nilai akhlak mulia lainnya.[22]

Berdasarkan definisi tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa dakwah merupakan aktivitas yang secara sadar dilakukan dalam rangka menyampaikan pesan-pesan agama Islam yang berisi tentang konsep-konsep hukum Islam serta keimanan yang dijalankan secara teratur tanpa melupakan pentingnya aspek sosial masyarakat guna mewujudkan kebahagiaan di dunia maupun akhirat, dengan menggunakan cara-cara tertentu.

Penulis menganalisa bahwa porsi dakwah sosial yang disajikan dari definisi-definisi dakwah tersebut sangat besar. Definisi tersebut banyak menitikberatkan pola dakwah dalam aspek sosial kemasyarakatan seperti kejujuran, keadilan, kedisiplinan, kasih sayang, rendah hati dan lain-lain. Hal ini mengindikasikan bahwa definisi dakwah tersebut senada dengan dakwah sosial yang disuarakan Kang Jalal.

Bahkan ternyata keimanan mempunyai korelasi yang erat dengan aspek sosial keberagamaan. Toshihiko Izutsu secara singkat menjelaskan bahwa orang beriman adalah orang yang mampu untuk bertingkah laku secara sosial dan religius. Dia melandaskannya berdasarkan ayat Qur’an mengenai orang beriman yang sesungguhnya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebutkan nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.[23]

 

Kemudian ia menjelaskan lebih lanjut bahwa:

Keyakinan yang sungguh-sungguh akan menghasilkan motif yang paling kuat yang mendorong manusia untuk berbuat baik; jika tidak demikian maka keyakinan itu belum sungguh-sungguh. Sikap yang mendasar, seperti perasaan berdosa dan khidmat di hadapan Allah, patuh terhadap perintah Allah, rasa syukur terhadap nikmat Allah; semua unsur inilah yang memberikan ciri keimanan Islam yang tertinggi, yang harus diwujudkan dalam perbuatan baik (shalihat).[24]

 

Toshihiko ingin menegaskan bahwa keimanan yang ideal menurut Qur’an adalah bentuk keyakinan yang paling tinggi akan esensi dan substansi ajaran Qur’an sehingga terbentuk pribadi yang religius. Menurutnya pribadi yang religius akan menghasilkan dorongan kuat untuk melakukan perbuatan baik kepada sesama manusia dalam bentuk keshalehan sosial.

Lebih jauh Nurcholish Madjid berpendapat sebagai berikut:

Jadi, anggapan agama sebagai urusan pribadi itu hanya separuh benar, yaitu ketika berkaitan dengan inti keagamaan kita, seperti iman, takwa, dan sebagainya itu. Memang semuanya itu masuk dalam urusan pribadi yang tidak bisa dimasuki oleh kepentingan orang lain, tetapi ketika kita melakukan amal shaleh yang merupakan aspek consequential dari iman, berarti kita sudah masuk kawasan sosial. By definition, amal shaleh itu bersifat sosial karena menyangkut orang lain. Amal shaleh atau perbuatan baik itu dalam konteks Al-Qur’an maupun Hadits adalah dalam arti bahwa kita berbuat baik untuk sesama manusia. Itu bisa kita sarikan dari sabda Rasulullah saw: “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.”[25]

 

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah jenis penelitian kepustakaan (library research) di mana data dihimpun melalui berbagai bahan bacaan yang relevan dengan masalah penelitian. Pada penelitian ini penulis menggunakan pendekatan sosiologis religius. Karena yang menjadi pembahasan adalah problematika umat sekarang, maka permasalahan ini harus dilihat dari sudut sosial dan bagaimana dalam konteks agama. Artinya terdapat keterkaitan antara aspek sosial kemasyarakatan dengan nilai-nilai religius agama yang menjadi spirit dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan beragama.

Pendekatan sosiologis dirumuskan sebagai suatu studi tentang inter-relasi dari agama dan masyarakat serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi antar mereka. Melalui pendekatan ini bisa diselidiki bagaimana tata cara masyarakat, kebudayaan, dan pribadi-pribadi memengaruhi agama, sebagaimana agama itu sendiri memengaruhi mereka.[26]

2. Jenis Data

Jenis data pada penelitian ini adalah data kualitatif. Lexy J. Moleong mendefinisikan penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi dan pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Penelitian ini menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya.[27] Jadi dalam penelitian ini data kualitatif yang dimaksud adalah data tentang deskripsi pemikiran Jalaluddin Rakhmat khususnya mengenai konsep pemikiran dakwah sosialnya.

3. Sumber Data

a. Data Primer

Data primer yang dimaksud adalah data yang mengulas sisi konsep pemikiran dakwah sosial Kang Jalal dalam berbagai buku karangannya. Dalam penelitian ini, penulis banyak menemukan data primer mengenai ragam pemikiran dakwah sosial Kang Jalal dalam berbagai bukunya seperti: Islam Aktual, Islam Alternatif, Reformasi Sufistik, Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik, Madrasah Ruhaniyah, dan lain-lain.

b. Data Sekunder

Di samping data primer terdapat data sekunder yang sering kali juga diperlukan oleh peneliti.[28] Data sekunder adalah data lain yang dianggap berkaitan dengan masalah penelitian. Seperti buku-buku selain karya Kang Jalal yang menyinggung masalah dakwah sosial ditambah juga dengan Al-Qur’an dan Hadits. Adapun data sekunder yang penulis maksud adalah buku-buku seperti: Islam Kemanusiaan karangan Nurcholish Madjid, Konsep Islam: Solusi Utama Bagi Umat karya Yusuf Qaradhawi, Islam dan Sosialisme karangan HOS Cokroaminoto dan lain-lain.

 

 

4. Metode Pengumpulan Data

Semua data dalam penelitian ini diperoleh melalui studi kepustakaan dan juga dengan mengumpulkan artikel yang ada di berbagai media. Selain itu penulis juga menggunakan metode dokumentasi berupa karya-karya yang dihasilkan sang tokoh dan tulisan-tulisan orang lain yang berkaitan dengan sang tokoh.

5. Analisis Data

Analisis data berguna untuk mereduksi kumpulan data menjadi perwujudan yang dapat dipahami melalui pendeskripsian secara logis dan sistematis sehingga fokus studi dapat ditelaah, diuji dan dijawab dengan cermat dan teliti.[29] Dalam penelitian ini, data dianalisis secara induktif  berdasarkan data langsung dari objek penelitian. Oleh karena itu, pengumpulan dan analisis data dilakukan secara bersamaan, bukan terpisah sebagaimana penelitian kuantitatif di mana data dikumpulkan terlebih dahulu, baru kemudian dianalisis.

Analisis data yang dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menemukan pola atau tema tertentu. Artinya penulis berusaha menangkap karakteristik pemikiran Jalaluddin Rakhmat dengan cara menata dan melihatnya berdasarkan dimensi suatu keilmuan sehingga dapat ditemukan pola atau tema tertentu.
  2. Mencari hubungan logis antar pemikiran Jalaluddin Rakhmat dalam berbagai bidang, sehingga dapat ditemukan alasan mengenai timbulnya pemikiran dakwah sosial tersebut.
  3. Mencari generalisasi gagasan yang spesifik. Artinya, berdasarkan temuan-temuan yang spesifik tentang Jalaluddin Rakhmat, penulis akan dapat menemukan aspek-aspek yang dapat digeneralisasikan untuk tokoh-tokoh lain yang serupa. Dengan demikian, penelitian terhadap pemikiran Jalaluddin Rakhmat ini akan memiliki keberlakuan yang cukup luas dalam bidangnya.[30]

G. Sistematika Penulisan

Dalam melakukan penelitian ini, penulis menyusun sistematika pembahasan sebagai berikut:

Bab pertama merupakan bagian pendahuluan yang di dalamnya berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, kerangka teoritis, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Sedangkan pada bab kedua penulis membuat sketsa biografi Jalaluddin Rakhmat yang berisi tentang latar belakang keluarga dan kelahirannya, riwayat pendidikan ataupun organisasinya, aktivitas dakwahnya, karya-karya beliau,  serta mengisahkan sedikit tentang latar belakang sang tokoh melahirkan pemikiran dakwah sosialnya.

Bab ketiga adalah bagian di mana penulis mengemukakan teori-teori mengenai dakwah. Dimulai dengan penjelasan definisi dakwah secara etimologi dan terminologi, landasan dakwah, metode dakwah dan materi dakwah. Dilanjutkan penjelasan mengenai dakwah sosial berupa pengertian dan karakteristik dakwah sosial serta latar belakang dakwah sosial.

Bab keempat merupakan bagian yang penting karena pada bab ini penulis mengulas  pembahasan  mengenai konstruksi dan signifikansi pemikiran dakwah sosial Jalaluddin Rakhmat terhadap keberagamaan umat saat ini. Penulis mengupas apa saja bentuk pemikiran dakwah sosial Kang Jalal beserta contohnya. Selain itu penulis juga membahas pentingnya dakwah sosial dalam konteks umat beragama yang hidup bermasyarakat.

Bab kelima merupakan penutup yang berisi kesimpulan penelitian dan saran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama RI. 1990.

Al Aidan, Abdul Aziz. Tidak Ada Alasan Bagimu Meninggalkan Da’wah. Jakarta: Zikrul Hakim. 2007.

Al Hasani, Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki. Kiat Sukses Berdakwah. Jakarta: Amzah. 2006.

Al Munawar, Said Agil Husin. Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki. Jakarta: Ciputat Press. 2005.

Al Qaradhawi, Yusuf. Konsep Islam: Solusi Utama Bagi Umat. Jakarta: Senayan Abadi Publishing. 2004.

Ali Aziz, Mohammad. Ilmu Dakwah: Edisi Revisi. Jakarta: Kencana. 2009.

Az Zabidi, Imam. Ringkasan Hadis Shahih Bukhari. Jakarta: Pustaka Amani. 2002.

Amin, Samsul Munir. Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah. 2009.

———-. Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Islam. Jakarta: Amzah. 2008.

Basit, Abdul. Wacana Dakwah Kontemporer. Purwokerto: STAIN Purwokerto Press. 2006.

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2005.

Engineer, Asghar Ali. Islam dan Teologi Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2006.

Faizah, H.Lalu Muchsin Effendi. Psikologi Dakwah. Jakarta: Kencana. 2009.

Furchan, Arief, Agus Maimun. Studi Tokoh, Metode Penelitian Mengenai Tokoh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005.

Izutsu, Toshihiko. Konsep-Konsep Etika Religius dalam Qur’an. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya. 1993.

Kuntowijoyo. Muslim Tanpa Mesjid: Esai-Esai Agama, Budaya dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental. Bandung: Mizan. 2001.

———-. Identitas Politik Umat Islam. Bandung: Mizan. 1999.

M. Echols, John, Hassan Shadily. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia. 2000.

Madjid, Nurcholish. Islam Agama Kemanusiaan, Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia. Jakarta: Paramadina. 2003.

———-. Umrah dan Haji, Perjalanan Religius. Jakarta: Paramadina. 2008

Malik, Dedy Jamaluddin, Idi Subandy Ibrahim. Zaman Baru Islam Indonesia. Bandung: Zaman Wacana Mulia. 1998.

Masngud, dkk. Pendidikan Multikultural: Pemikiran dan Upaya Implementasinya. Yogyakarta: Idea Press. 2010.

Moleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2007.

Omar, Toha Yahya. Ilmu Dakwah. Jakarta: Wijaya. 1984.

Rafi’udin dan Maman Abdul Djaliel. Prinsip dan Strategi Dakwah. Bandung: Pustaka Setia. 2001.

Rais, Amien. Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan. Bandung: Mizan. 1998.

Rakhmat, Jalaluddin. Islam Aktual, Refleksi Sosial Seorang Cendikiawan Muslim. Bandung: Mizan. 2004.

———-. Islam Alternatif, Ceramah-Ceramah di Kampus. Bandung: Mizan. 1997.

———-. Dahulukan Akhlak di Atas Fikih. Bandung: Mizan. 2007.

———-. Madrasah Ruhaniah, Berguru pada Ilahi di Bulan Suci. Bandung: Mizan. 2007.

———-. Reformasi Sufistik. Bandung: Pustaka Hidayah.1998.

———-. Membuka Tirai Kegaiban: Renungan-Renungan Sufistik. Bandung: Mizan. 2008.

———-. Meraih Cinta Ilahi, Pencerahan Sufistik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2005.

———-. Jalaluddin Rakhmat Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer. Bandung: Mizan. 1998.

———-. Islam dan Pluralisme, Akhlak Qur’an Menyikapi Perbedaan. Jakarta: Serambi. 2006.

———-. Memaknai Kematian. Bandung: Pustaka Iman. 2006.

———-. Retorika Modern, Pendekatan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006.

———-. Rindu Rasul, Meraih Cinta Illahi Melalui Syafa’at Nabi SAW. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2004.

———-. Tafsir Kebahagiaan, Pesan Al-Qur’an Menyikapi Kesulitan Hidup. Jakarta: Serambi. 2010.

———-. The Road to Allah: Tahap-Tahap Perjalanan Ruhani Menuju Tuhan. Bandung: Penerbit Mizan. 2007.

———-. The Road to Muhammad. Bandung: Mizan. 2009.

Riduwan. Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian. Bandung: Alfabeta. 2009.

Rosyidi. Dakwah Sufistik Kang Jalal, Menentramkan Jiwa, Mencerahkan Pikiran. Jakarta: PT Dian Rakyat. 2004.

Saeful Muhtadi, Asep, Agus Ahmad Safei. Metode Penelitian Dakwah. Bandung: CV Pustaka Setia. 2003.

Sapuri, Rafy. Psikologi Islam, Tuntunan Jiwa Manusia Modern. Jakarta: Rajawali Press. 2009.

Shihab, Quraish. Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan. 2001.

———-. Tafsir al Misbah: Lentera Hati, Kisah dan Hikmah Kehidupan.  Bandung: Mizan. 1997.

Suparta, Munzier, Harjani Hefni. Metode Dakwah. Jakarta: Kencana. 2006.

Suprayogo, Imam, Tobroni. Metodologi Penelitian Sosial Agama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2003.

Suryabrata, Sumadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2006.

Syariati, Ali. Paradigma Kaum Tertindas, Sebuah Kajian Sosiologi Islam, terj. Saifullah Mahyudin dan Husen Hashem. Jakarta: Al Huda. 2001.

Tjokroaminoto, HOS. Islam dan Sosialisme. Bandung: Sega Arsy. 2008.

 


[1] Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia  (Jakarta: Paramadina, 2003), hlm.  vi.

[2] Nurcholish Madjid, Umrah dan Haji: Perjalanan Religius (Jakarta: Paramadina, 2008), hlm.  24.

[3]Ada banyak ayat-ayat Qur’an yang menegaskan tentang keuniversalan ajaran Islam seperti dalam QS. As Saba/ 34: 28 dan juga QS. Al Anbiya/ 21: 107.

[4] Penulis menggunakan istilah revolusi karena menurut penulis, apa yang telah dilakukan Rasulullah dalam menegakkan Islam merupakan perubahan besar dan menyeluruh menyangkut segala aspek kehidupan masyarakat Arab saat itu.

[5]HOS.  Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme (Bandung: Sega Arsy, 2008), hlm.  25.

[6] Rafy Sapuri, Psikologi Islam: Tuntunan Jiwa Manusia Modern (Jakarta: Rajawali Press, 2009), hlm.  8.

[7]Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan …, hlm.  x.

[8] Rosyidi, Dakwah Sufistik Kang Jalal: Menentramkan Jiwa, Mencerahkan Pikiran (Jakarta: PT Dian Rakyat, 2004), hlm.  1.

[9]Kerangka dasar tentang metode dakwah yang terdapat pada ayat ini adalah bi al-hikmah, mau’izahah hasanah dan mujadalah.

[10] Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah (Jakarta: Amzah, 2009), hlm.  13.

[11]Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa orang yang menganut paradigma fikih merupakan orang atau sekelompok orang yang menjadikan aturan-aturan fikih sebagai sekumpulan keyakinan, nilai dan aturan dalam berperilaku.  Untuk lebih jelasnya lihat Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih (Bandung: Mizan.  2007).

[12] Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam (Bandung: Mizan, 1999), hlm.  18-19.

[13] Jalaluddin Rakhmat, Reformasi Sufistik (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998), hlm.  47.

[14]Ibid.

[15] Riduwan, Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian  (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm.  11.

[16]Ibid.

[17] Lihat Rosyidi, Dakwah Sufistik Kang Jalal: Menentramkan Jiwa, Mencerahkan Pikiran (Jakarta: PT Dian Rakyat, 2004).

[18] Lihat skripsi Muhammad Ali Murtadlo, Neo Sufisme: Studi Atas Pemikiran Jalaluddin Rakhmat (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008).

[19] Lihat skripsi Imron Rosyadi, Pemikiran Jalaluddin Rakhmat Tentang Pendidikan Islam: Kontribusinya Terhadap Materi dan Metode (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009).

[20] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 2001), hlm.  194.

[21] Amrullah Ahmad, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial (Yogyakarta: PLP2M, 1983), hlm.  3.

[22] Faizah dan H. Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah (Jakarta: Kencana, 2009), hlm.  xiii.

[23] QS.  Al Anfal: 2-4.

[24] Toshihiko Izutsu, Konsep-Konsep Etika Religius dalam Qur’an (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1993), hlm.  222.

[25] Nurcholish Madjid, Umrah dan Haji: Perjalanan Religius…, hlm.  80.

[26]Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial Agama (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), hlm.  60-61.

[27]Lexy J.  Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm.  6.

[28] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian  (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hlm.  39.

[29] Arief Furchan dan Agus Maimun, Studi Tokoh: Metode Penelitian Mengenai Tokoh, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm.  59.

[30]Ibid. , hlm.  60-62.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: