Skripsi Literatur 2

DAKWAH INKLUSIF NURCHOLISH MADJID

 


 

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)

 

 

Oleh:

ERWIN

0721010

Jurusan: Dakwah

Program Studi : Bimbingan Penyuluhan Islam

 

Kepada:

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

 SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK

BANGKA BELITUNG

2011

BAB I

PENDAHULUAN

DAKWAH INKLUSIF NURCHOLISH MADJID

A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama yang hadir sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Ia bersifat universal, mengatur segala aspek kehidupan manusia, terutama bagi umatnya yang beriman. Anas Urbaningrum mengatakan bahwa dalam setiap sendi kehidupan, Islam memberi arahan yang signifikan agar kehidupan manusia “selamat”- sebagaimana arti Islam itu sendiri selamat dari bencana azab-Nya.[1] Islam merupakan agama yang kaya akan wacana dan khazanah dalam mengatur berbagai dimensi kehidupan manusia. Selain itu, Islam merupakan agama yang mengandung ajaran dan norma untuk dijadikan dasar kehidupan bagi umatnya seperti kasih sayang (rahman dan rahim), perdamaian (salam), persaudaraan (ukhuwah), persamaan (musawat), toleransi (tasamuh), keadilan (‘adalah), keseimbangan (tawazun) dan kebebasan (hurriyah).[2]

Berdasarkan ajaran dan norma Islam tersebut, telah memberikan gambaran kepada kita bahwa dalam agama Islam, penerapan ajaran dan norma itu tidak hanya berorientasi pada hubungan vertikal kepada Allah (hablun min- Allah) semata, tetapi juga mencakupi wilayah yang lebih luas yakni berorientasi pada hubungan horizontal ke sesama manusia (hablun min al-nas). Dalam hal ini, Islam sebagai sebuah ajaran ilahiyah yang berisi tata nilai kehidupan akan hanya menjadi sebuah konsep yang melangit  jika tidak teraplikasikan dalam kehidupan nyata.[3]

Agama itu bagaikan cahaya yang mengusir kegelapan dan menunjukkan jalan terang. Agama juga bagaikan limpahan air sehingga memberikan kesejukan dalam kehidupan. Tetapi kadangkala paham keagamaan yang berkembang menurut  Komaruddin Hidayat malah dirasakan pengap dan mendorong perselisihan. Tentu paham dan praktek keberagamaan demikian tidak sehat. Jika kita perhatikan secara sadar, dalam realitas sosial sekarang sering kita saksikan masyarakat kita yang begitu mudah menggunakan simbol agama, ternyata juga sangat mudah terjatuh pada sikap brutal yang melecehkan nilai-nilai kemanusiaan.[4]

Berbagai konflik reaksioner-ekstrim antar kelompok keagamaan terjadi akibat perbedaan pemahaman dalam keyakinan agama. Sebagai contoh dalam kacamata gerakan Islam, gugatan ini muncul tidak saja berbentuk pergulatan ide dan gagasan tetapi telah berwujud gerakan. Munculnya ormas-ormas Islam baru yang lengkap dengan gerakan massanya seperti jaringan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Mujahidin Indonesia, Front Pembela Islam, Laskar Jihad dan sebagainya menjadi tanda bahwa tantangan itu telah benar-benar bermain pada level praksis.[5] Sikap fanatik terhadap golongan yang terlalu berlebihan, tidak jarang dengan mudahnya memberi label “kafir” kepada pihak yang tidak sepaham. Kemudian tidak segan-segan untuk berbuat tidak manusiawi dengan menghalalkan darah kelompok non-Muslim bahkan sesama Muslim. Kelompok-kelompok Muslim radikal cenderung menggunakan legitimasi agama dalam bertindak, yang mana bagi sebagian kelompok moderat bahwa tindakan kekerasan atas nama agama hanyalah kamuflase dari suatu ambisi politik yang dilegitimasi dengan dalil-dalil agama.[6] Sehingga dapat dipastikan muncul pernyataan bahwa Islam dianggap sebagai agama yang menganjurkan radikalisme dan kekerasan, Islam diklaim sebagai agama teroris, Islam dicap sebagai penganut sektarianis, bahkan Islam dituduh sebagai agama beringas yang mendoktrin umatnya untuk berperang.

Dengan demikian, menurut Azyumardi Azra bahwa konsep Islam sendiri tidak luput dari sasaran keraguan karena banyaknya pemaknaan terhadap agama ini sampai-sampai mengakibatkan perpecahan yang akut. Konflik antar Muslim seringkali tidak bisa diremehkan, atau dipandang sebagai fenomena semu, karena  biaya yang harus dibayar sedemikian tinggi.[7] Praktis menanggapi situasi ini, tidak sedikit  kritik yang dilontarkan orang mengingat dimensi kemanusiaan dalam Islam berupa nilai-nilai yang menjunjung kebersamaan, solidaritas sosial, kasih sayang, gotong-royong antar sesama mulai tergeser kepada nilai-nilai yang sifatnya destruktif ketika tiap gerakan keagamaan terjebak dalam klaim kebenaran (truth claim). Padahal benih-benih perselisihan antar kelompok dipicu oleh klaim-klaim yang seperti itu.

Sehingga timbul pertanyaan apakah pemahaman dan keyakinan agama sudah tidak berpengaruh dalam perilaku kehidupan sosial kita? Apakah etika beragama kita hanya terbatas di dalam Masjid saja, sehingga aspek sosial-kemanusiaan sering kali terabaikan. Pertanyaan ini setidaknya sebagai gugatan paradigma moral Islam dan moral bangsa kita yang mengaku beradab, serta senantiasa kita junjung tinggi, yang selama ini telah dianggap mapan dan berlaku efektif dalam menegakkan sistem sosial. Jika umat Islam terus-menerus terjerumus ke dalam tindakan yang destruktif, radikal, ekslusifisme, bahkan zalim – apalagi dengan memaksakan kehendak yang diklaim benar oleh kelompoknya masing-masing – maka umat Islam telah terperosok ke dalam situasi yang membahayakan yakni ekstremisme. Situasi ini terindikasikan ke dalam wujud sikap fanatisme sempit dan sikap tidak toleran. Hasilnya terjadilah perselisihan internal berupa kebencian, dendam, kemarahan dan berujung pada disintegrasi persatuan dan kesatuan bangsa.

Demikian yang disampaikan oleh Alwi Shihab, bagaimana mungkin kita dapat mengajak orang untuk membangun karakter moral yang tinggi dan mencegah aktivitas yang tidak Islami jika sang da’i itu sendiri tidak secara terang-terangan memperlihatkan akhlak baik yang mencerminkan nilai-nilai Islam.[8] Maka usaha untuk menghindari berbagai bentuk pemahaman keagamaan dan tindakan yang dapat merusak citra Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi  nilai-nilai persamaan (egaliterian), nilai-nilai kemanusiaan (humanis), maka setiap kelompok keagamaan dan umat Islam hendaklah berusaha menampilkan Islam yang berjiwa inklusif. Menurut Ahmad Amir Aziz bahwa ciri mendasar teologi inklusif adalah penegasan bahwa Islam itu agama terbuka, dan penolakan terhadap ekslusifisme dan absolutisme. Paradigma terpenting dari teologi inklusif adalah komitmen pada pluralitas.[9]

Salah seorang intelektual Muslim Indonesia yang mengusung wacana Islam Inklusif dalam pluralitas ini adalah Nurcholish Madjid. Dalam rangka mengaktualkan nilai-nilai keislaman pada masa kini, pemikiran Nurcholish Madjid berusaha menampilkan Islam secara inklusif kiranya layak penulis kemukakan lebih dalam. Pada masa kontemporer ini sudah sepantasnya umat Islam Indonesia lebih bersikap terbuka, mampu mengembangkan ajaran Islam yang universal dalam pluralitas sehingga membentuk suatu sikap yang memandang secara positif-optimis terhadap kemajemukan dengan menerimanya sebagai kenyataan dan terlibat aktif dalam berbuat baik atas dasar kenyataan itu. Dengan sikap inklusif umat Islam dapat menetralisir berbagai keraguan masyarakat terhadap konsep “ummat” dalam Islam atas keragaman yang tinggi.

Perbedaan paham antar golongan, penindasan terhadap agama lain atas dasar perintah agama, memaksakan pendapat kelompok sendiri kepada kelompok lain yang tidak sepaham, sikap-sikap yang menjustifikasi kelompok (agama) lain salah atau sesat serta truth claim adalah sikap yang mendapat kecaman keras oleh Cak Nur. Beliau adalah sosok intelektual yang senantiasa prihatin terhadap kondisi keberagamaan yang diperalat oleh kepentingan-kepentingan kelompok mayoritas untuk menindas kelompok minoritas, serta sikap intoleran dengan mengabaikan cita-cita kehidupan beragama dan berbangsa yang berkeadilan sosial, aman sentosa, damai dan beradab.

Berdasarkan hal tersebut pula Cak Nur – panggilan Nurcholish Madjid – senantiasa konsisten dalam menyeru wacana Islam Inklusif dalam berbagai buah pemikirannya yang terserak di berbagai bukunya: Islam Doktrin dan Peradaban, Islam Agama Kemanusiaan, Cita-Cita politik Islam, Islam Agama Peradaban, dan lain-lain. Hingga penulis merasa penting secara akademik dan tanggung jawab intelektual untuk mengangkat masalah ini dalam bentuk penelitian yang berjudul: “Dakwah Inklusif  Nurcholish Madjid”.

B. Rumusan Masalah

           

Menampilkan wacana inklusif dalam Islam merupakan salah satu gagasan sentral Nurcholish Madjid dalam sebagian besar buku-buku karyanya. Nurcholish Madjid adalah sosok yang sangat vokal dan konsisten dalam menyuarakan gagasannya bahwa Islam sebagai agama terbuka yang sering ia sebut sebagai agama al-hanifiyyah al samhah, yakni suatu ajaran yang bersemangat mencari kebenaran yang lapang, toleran dan tanpa kefanatikan. Gagasan ini tentunya merupakan buah keprihatinan beliau terhadap berbagai kondisi keberagamaan golonganisme yang rigit dan radikal di Indonesia. Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini terfokus pada aspek dakwah inklusif Nurcholish Madjid. Secara simplistik dapat dirumuskan dengan pertanyaan:

  1. Bagaimana konstruksi dakwah inklusif Nurcholish Madjid?
  2. Bagaimana signifikansi dakwah inklusif Nurcholish Madjid dalam konteks keberagamaan yang pluralistik?

C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan keinginan-keinginan peneliti atas hasil penelitian dengan mengetengahkan indikator-indikator apa yang hendak ditemukan dalam penelitian.[10] Jadi secara akademis penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mengetahui konstruksi dakwah inklusif Nurcholish Madjid.
  2. Mengetahui signifikansi dakwah inklusif dalam konteks keberagamaan yang plularistik menurut Nurcholish Madjid.

2. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan, serta untuk menjelaskan tentang manfaat dari penelitian yang dilakukan peneliti.[11]

  1. Penelitian ini diharapkan berguna bagi perkembangan khazanah ilmu pengetahuan Islam, khususnya di bidang pengembangan ilmu dakwah.
  2. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan khususnya bagi umat Islam dalam meningkatkan kesadaran keberagamaan yang terbuka, toleran atas dasar persamaan dalam kesatuan umat.
  3. Penelitian ini diharapkan dapat menjembatani titik temu (common platform) berbagai sikap keberagamaan masyarakat dalam pluralitas agama, suku, ras dan antar golongan.

D. Telaah Pustaka

Salah satu motivasi penulis mengkaji “dakwah inklusif Islam menurut Nurcholish Madjid” dikarenakan penelitian-penelitian terdahulu belum secara khusus membahas tentang wacana dakwah inklusif Islam oleh  Nurcholish Madjid (yang lebih akrab dipanggil Cak Nur). Tulisan dalam bentuk buku tersebut antara lain buku Neo-Modernisme Islam Di Indonesia karangan Ahmad Amir Aziz[12] mengeksplorasi gagasan-gagasan Neo-modernisme Islam dan integrasinya dengan keindonesiaan serta isu-isu kebangsaan. Dalam buku ini hanya sedikit disinggung wacana-wacana Cak Nur tentang pluralitas dan masalah sosial keagamaan.

Kajian lain tentang pemikiran Cak Nur adalah buku yang berjudul Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholish Madjid Seputar Isu Sekularisasi Dalam Islam karangan Faisal Ismail[13] yang mana dalam buku ini berpanjang lebar menekankan seputar gugatan, sanggahan dan refutasi terhadap pemikiran Cak Nur di seputar isu sekularisasi dalam Islam. Selanjutnya Sudirman Tebba menulis sebuah buku tentang pemikiran Cak Nur yang berjudul Orientasi Sufistik Cak Nur, Komitmen Moral Seorang Guru Bangsa.[14] Dalam buku ini, Sudirman Tebba hanya memfokuskan pada kajian tasawuf yang digagas oleh Cak Nur. Ia membahas hal-hal yang menjadi orientasi tasawuf serta memaparkan bentuk-bentuk amalan ritual sebagai konsekuensi iman kepada Tuhan namun belum secara spesifik dan komprehensif menampilkan gagasan inklusif dalam Islam oleh Cak Nur.

Berdasarkan beberapa kajian tulisan dalam bentuk buku tersebut penulis merasa masih ada sisi dari pemikiran Cak Nur yang berpotensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yakni Dakwah Inklusif  Islam yang ditawarkan Cak Nur dalam mengatasi konflik antar agama serta persoalan kemajemukan agama dan kelompok keagamaan di masa kini. Namun beberapa literatur yang telah disebutkan tadi akan dijadikan referensi dalam tulisan ini.

E. Landasan Teoritis

Setiap agama sudah tentu membawa misi sebagai pembawa kedamaian dan keselarasan hidup. Bukan saja antar manusia, tetapi juga antar sesama makhluk Tuhan penghuni semesta ini. Dalam terminologi Al-Qur’an misalnya, misi suci itu disebut rahmah li al-‘alamin (rahmat dan kedamaian bagi semesta).

Namun selain sebagai alat pemersatu sosial, agama pun menjadi unsur konflik dalam pluralitas masyarakat. Dalam konteks agama, problem yang sering kali muncul adalah ketika kita sering menemukan fenomena dakwah demi menyebarkan paham keagamaan, namun kemudian dianggap sebagai kebenaran itu sendiri. Sementara orang lain sering kita anggap salah, orang yang harus diselamatkan, dan orang yang harus ditarik ke jalan yang benar. Cara pandang keagamaan semacam ini menurut Rumadi akhirnya tidak lagi menyelaraskan antara satu agama dan yang lain, tetapi mendestruksi tatanan masyarakat yang ada. Persoalan yang muncul adalah pertikaian, saling caci, bunuh-membunuh dan seterusnya.[15]

Konflik dan benturan agama-agama itu menurut Adeng Muchtar Ghazali terjadi bukan karena agama itu datang built-in dengan konflik dan tampil asosial, tetapi karena sering kita lihat bahwa para pemeluknya telah mengekspresikan kebenaran agamanya secara monolitik dan eksklusif, dalam arti bahwa subjektifitas kebenaran yang diyakininya sering kali menafikan kebenaran yang diyakini pihak lain.[16] Maka agar eksistensi Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban, sikap inklusif mutlak diperlukan.

Sikap inklusivisme berpandangan bahwa di luar agama yang dipeluknya juga terdapat kebenaran, meskipun tidak seutuh atau sesempurna agama yang dianutnya. Di sini, masih didapatkan toleransi teologis dan iman.[17] Dengan demikian, Islam mengakui hak hidup agama-agama lain, dan membenarkan para pemeluk agama lain untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Tentu terdapat dasar ajaran Islam mengenai toleransi beragama yang bukan berarti sebagai sikap masa bodoh terhadap agamanya, atau bahkan tidak perlu mendakwahkan ajaran kebenaran yang diyakininya itu.[18]

Memang biasanya setiap milik kita adalah yang paling berharga termasuk agama. Bahkan kita rela mengorbankan apapun untuk bukti pengakuan sebagai pemeluknya demi kelestarian agama kita. Namun dipaparkan oleh M. Quraish Shihab bahwa Islam datang tidak hanya bertujuan mempertahankan eksistensinya sebagai agama, tetapi juga mengaku eksistensi agama-agama lain dan memberinya hak untuk hidup berdampingan sambil menghormati pemeluk-pemeluk agama lain.[19]

Lebih lanjut Ahmadie Thaha dan Ilyas Ismail mengatakan bahwa Islam juga punya pengalaman bersikap ramah dalam pergaulan dengan orang di luar mereka. Bahkan peradaban dengan semangat kosmopolitan Islam ini telah terbukti menampakkan diri dalam kehidupan Islam yakni masa Rasulullah dan masa sahabat di Madinah dan peradaban Islam Cordova dari Daulah Abbasiyyah selama berabad-abad. Timbulnya semangat kosmopolitisme dalam peradaban Islam ini menurut Ziauddin Sardar dipengaruhi oleh sikap terbuka umat Islam dan kemampuan mereka melakukan penyesuaian diri tehadap lingkungan yang berubah.[20]

M. Deden Ridwan mengatakan:

Untuk membangun suatu teologi kerukunan, hanya bisa diandaikan adanya keterbukaan sebuah agama terhadap agama yang lain. Dan keterbukaan itu hanya mungkin terwujud bila mengandaikan adanya kemajemukan atau pluralitas umat manusia. Secara normatif, Islam telah memberikan landasan teologis untuk melahirkan sikap hidup yang toleran, inklusif, dan menghargai pluralitas. Memang anjuran untuk berjiwa demikian merupakan bagian esensial dari visi Al-Qur’an.[21]

Dengan keterbukaannya atas budaya dan peradaban di luarnya, Budhy Munawar Rachman mengatakan bahwa Islam tetap bisa menunjukkan ciri khasnya karena mampu menyaring nilai-nilai peradaban luar secara cerdas menyeleksi untuk menerima dan mengasimilasi nilai-nilai baru yang dianggap relevan dengan prinsip Islam. Menyikapi nilai-nilai yang dianggap bertentangan dengan prinsipnya, Islam menolak dengan sopan tanpa menunjukkan sikap eksklusif yang liar dan agresif. Jangankan dalam situasi damai, bahkan dalam keadaan perang sekalipun, orang-orang Islam punya aturan main untuk tidak membabi buta dan gelap mata. Bahkan dalam upaya menyebarkan agama Islam atau mengajak orang lain untuk memeluk Islam diwanti-wanti untuk tidak memaksakan kehendak. Semua itu menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang ramah.[22]

Hanya saja jika seseorang yang dengan sukarela serta penuh kesadaran telah memilih satu agama, maka yang bersangkutan telah berkewajiban untuk melaksanakan ajaran agama tersebut secara sempurna.[23] Setidaknya dengan sikap terbuka dan toleran, Islam tidak lagi menjadi apa yang dikatakan oleh Muhammad Abduh bahwa keindahan ajaran Islam ditutupi oleh kelakuan sementara umat Islam.

 

F. Metode Penelitian

  1. Jenis Penelitian

Pada dasarnya, penelitian ini bersifat kualitatif yang menitikberatkan pada kajian kepustakaan (library research). Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.[24] Jadi jelas bahwa penelitian ini adalah library-research dengan bentuk deskriptif-analitis. Adapun dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan sosial-keagamaan. Penulis menggunakan pendekatan sosial-keagamaan karena pendekatan ini dibutuhkan dalam memahami kondisi sosial yang berkorelasi dengan pemahaman keagamaan masyarakat dan aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. Sumber  Data

Langkah pengumpulan data dalam penelitian ini dengan mengumpulkan bahan-bahan kepustakaan yang berupa buku-buku karangan Cak Nur. Karena wilayah kajian beliau yang sangat luas dan variatif, maka data yang merupakan gagasan-gagasan yang ia tuangkan kemudian dipilah-pilah dan diseleksi sesuai wilayah kajian. Dalam pengumpulan data, pokok-pokok pikiran yang orisinal dari Cak Nur dikategorikan sebagai sumber primer. Sedangkan bahan berupa kajian yang ditulis orang lain tentang beliau dan wacana pemikiran beliau dikategorikan sebagai sumber sekunder.

  1. Analisis Data

Dalam mengkaji ide-ide pokok pemikiran Cak Nur, penulis mengumpulkan data-data dari berbagai sumber (primer dan sekunder) kemudian menggunakan metode telaah naskah dan sekaligus dilakukan analisis terhadap ide-ide yang menjadi fokus penelitian. Dengan demikian penulis merumuskan suatu kesimpulan yang berkenaan dengan fokus penelitian.

G. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan penelitian ini, penulis membagi bab pembahasan terdiri dari lima bab:

Bab pertama mencakup pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, landasan teori, telaah pustaka, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab kedua penulis menyampaikan biografi Nurcholish Madjid yang berisi riwayat kehidupan beliau dan keluarga, riwayat pendidikan dan karirnya dalam berorganisasi, karya-karyanya dalam bentuk buku serta menceritakan latar belakang pemikiran sosial, intelektual, dan keagamaan Nurcholish Madjid tentang Islam Inklusif.

Bab ketiga penulis mengemukakan teori mengenai dakwah seperti definisi dakwah, landasan dakwah, unsur-unsur dakwah kemudian dilanjutkan dengan membahas definisi dakwah inklusif, serta karakteristik dakwah inklusif.

Bab keempat penulis memaparkan konstruksi dakwah inklusif Nurcholish Madjid serta signifikansinya dalam konteks sosial dan keberagamaan pluralistik.

Bab kelima merupakan bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

 

Daftar Pustaka

Al-Qur’an Al-Karim dan terjemahan.

Abdullah Taufik, dkk, 1999, Jalan Baru Islam, Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia, Bandung: Mizan.

Agus, Bustanuddin, 2007, Islam dan Muslim Serial Esai Sosiologi Agama -1, Islam dan Pembangunan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Al-Qaradhawi, Yusuf,  2003, Kebangkitan Gerakan Islam, Dari Masa Transisi Menuju Kematangan, diterjemah oleh, Abdullah Hakam Shah, Aunul Abied Shah, Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Amin, Samsul Munir, 2008, Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Islam, Jakarta: Amzah.

_________, 2009, Ilmu Dakwah, Jakarta: Amzah.

An-Nabiry, Fathul Bahri, 2008, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i, Jakarta: Amzah.

An-Nawawi, Imam, 2007, Hadits Arba’in An-Nawawiyah, terj. Tim  Sholahuddin, Jakarta: Sholahuddin Press.

AS, Enjang, Aliyudin, 2009, Dasar-Dasar Ilmu Dakwah, Pendekatan Filosofis dan Praktis, Bandung: Widya Padjadjaran.

Aziz, Ahmad Amir, 1999, Neo Modernisme Islam Di Indonesia, Gagasan Sentral Nurcholish Madjid-Abdurrahman Wahid, Jakarta: Rineka Cipta.

Aziz, Mohammad Ali, 2009, Ilmu Dakwah, Edisi Revisi, Jakarta: Kencana.

Basit, Abdul, 2005, Wacana Dakwah Kontemporer, Yogyakarta: STAIN Purwokerto Press.

Departemen Pendidikan Nasional, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke 3, Jakarta: Balai Pustaka.

Gaus, Ahmad, 2010, Api Islam Nurcholish Madjid, Jalan Hidup Seorang Visioner, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Ghazali, Adeng Mochtar, 2004, Agama dan Keberagamaan Dalam Konteks Perbandingan Agama, Bandung: Pustaka Setia.

Harmoni, 2008, Jurnal Multikultural dan Multireligius, Hukum dan Pelayanan Keagamaan di Indonesia, vol. VII, no 28, Oktober-Desember Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI.

Hassan, Riaz, 2006, Keragaman Iman, Studi Komparatif Masyarakat Muslim, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Hidayat, Komaruddin, 2009, Jejak-Jejak Kehidupan, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Ismail, Faisal, 2010, Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholish Madjid, Seputar Isu Sekularisasi Dalam Islam, Jakarta: PT Laswell Visitama.

Kartanegara, Mulyadhi, 2000, Mozaik Khazanah Islam, Bunga Rampai Dari Chicago, Jakarta: Paramadina.

Madjid, Nurcholish, 1992, ­Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina.

_________, 1994, Khazanah Intelektual Islam, Jakarta: Bulan Bintang.

_________, 1997, Kaki Langit Peradaban Islam, Jakarta: Paramadina.

_________, 1999, Cita-Cita Politik Islam Era Reformasi, Jakarta: Paramadina.

_________, et al, 2000, Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern, Respon dan Transformasi Nilai-Nilai Islam Menuju Masyarakat Madani, Jakarta: Media Cita.

_________, 2000, Islam Agama Peradaban, Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam Dalam Sejarah, Jakarta: Paramadina.

_________, 2000, Dialog Ramadlan, Merenungi Makna dan Hikmah Ibadah Puasa, Lailatul Qadr, Nuzulul Qur’an, Zakat dan Hari Raya Idul Fitri, Jakarta: Paramadina.

_________, 2002, Atas Nama Pengalaman, Beragama dan Berbangsa di Masa Transisi, Kumpulan Dialog Jumat di Paramadina, Jakarta: Paramadina.

_________, 2003, Islam Agama Kemanusiaan, Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, Jakarta: Paramadina.

_________, 2005, Pesan-Pesan Takwa, Kumpulan Khutbah Jum’at di Paramadina, Jakarta: Paramadina.

_________, 2006, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Jakarta: Mizan.

_________, 2008, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Jakarta: Dian Rakyat.

_________, 2008, Tradisi Islam, Peran dan Fungsinya Dalam Pembangunan di Indonesia, Jakarta: Paramadina.

_________, 2008, Umrah dan Haji, Perjalanan religious, Jakarta: Paramadina.

_________, 2009, Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, Jakarta: Dian Rakyat.

_________, 2010, Masyarakat Religius, Membumikan Nilai-Nilai Islam Dalam Kehidupan, Jakarta: Dian Rakyat.

Malik, Imam, dkk, 2011, Antologi Pemikiran Dakwah Kontemporer, Yogyakarta: Ideas Press.

Moleong, Lexi J, 2007, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Munir dan Wahyu Ilaihi, 2009, Manajemen Dakwah, Jakarta: Kencana.

Nurdin, Ali, 2006, Quranic Society, Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal Dalam Al-Qur’an, Jakarta: Erlangga.

Nurudin, 2007, Pengantar Komunikasi Massa, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Qadir, Abdul, 2004, Jejak Langkah Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, Bandung: CV Pustaka Setia.

Rahman, Fazlur, 2000, Islam, terj. oleh. Ahsin Mohammad, Bandung: Pustaka.

Rahmat, Imdadun et al, 2003, Islam Pribumi, Mendialogkan Agama Membaca Realita, Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Rakhmat, Jalaluddin, 2006, Islam dan Pluralisme, Akhlak Qur’an Menyikapi Perbedaan, Jakarta: Serambi.

Riduwan, 2009, Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian, Bandung: Alfabeta.

Rosyidi, 2004, Dakwah Sufistik Kang Jalal, Jakarta: Penerbit Mizan.

Salenda, Kasjim, 2009, Terorisme dan Jihad Dalam Perspektif Hukum Islam, Jakarta: Badan Litbang Dan Diklat Departemen Agama RI.

Shihab, Alwi, 1999, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama, Bandung: Penerbit Mizan.

Shihab, M. Quraish, 2007, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Penerbit Mizan.

_________, 1993, Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam   Kehidupan Masyarakat, Bandung: Penerbit Mizan.

Tebba, Sudirman, 2004, Orientasi Sufistik Cak Nur, Komitmen Moral Seorang Guru Bangsa, Jakarta: Paramadina.

Wahyuni, Nafis Muhammad dkk, 2005, Kesaksian Intelektual, Mengiringi Kepergian Sang Guru Bangsa, Jakarta: Paramadina.



[1] Nurcholish Madjid et al, Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern, Respon dan Transformasi Nilai-Nilai Islam Menuju Masyarakat Madani (Jakarta: Penerbit Media Cita, 2000), hlm. 339.

[2] Kasjim Salenda, Terorisme dan Jihad Dalam Perspektif Hukum Islam  (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, 2009), hlm. 8.

[3] Rosyidi, Dakwah Sufistik Kang Jalal (Jakarta: Penerbit Paramadina, 2004), hlm. 1.

[4] Komaruddin Hidayat, Memaknai Jejak-Jejak Kehidupan (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009), hlm. 151.

[5] Imdadun Rahmat et al, Islam Pribumi, Mendialogkan Agama Membaca Realita (Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 2003), hlm. xvii.

[6] Kasjim Salenda, Terorisme dan Jihad …, hlm. 17.

[7] Riaz Hasan, Keragaman Iman, Studi Komparatif Masyarakat Muslim (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. xvi-xvii.

[8]Alwi Shihab, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama (Bandung: Penerbit Mizan, 1999), hlm. 254.

[9]Ahmad Amir Aziz, Neo-Modernisme Islam di Indonesia, Gagasan Sentral Nurcholish Madjid-Abdurrahman Wahid (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm. 27.

[10]Riduwan, Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 11.

[11]Ibid., hlm. 11.

[12]Lihat Ahmad Amir Aziz, Neo Modernisme Islam di Indonesia, Gagasan Sentral Nurcholish Madjid-Abdurrahman Wahid (Jakarta: Rineka Cipta, 1999).

[13] Lihat Faisal Ismail, Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholish Madjid, Seputar Isu Sekularisasi Dalam Islam (Jakarta: PT Laswell Visitama, 2010).

[14]Lihat Sudirman Tebba, Orientasi Sufistik Cak Nur, Komitmen Moral Seorang  Guru Bangsa (Jakarta: Paramadina, 2004).

[15] Imdadun Rahmat et al, Islam Pribumi, Mendialogkan Agama Membaca Realita…, hlm. 191.

[16] Adeng Muchtar Ghazali, Agama dan Keberagamaan Dalam Konteks Perbandingan Agama (Bandung: Pustaka Setia, 2004), hlm. 16-18.

[17] Ibid.,hlm. 154.

[18] Ibid.,hlm. 117.

[19] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2007), hlm. 498.

[20] Nurcholish Madjid et al, Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern, Respon dan Transformasi Nilai-Nilai Islam Menuju Masyarakat Madani…, hlm. 362.

[21] Ibid., hlm. 73.

[22] Ibid., hlm. 259-260.

[23] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat  (Bandung: Penerbit Mizan, 1993), hlm. 368.

[24] Lexi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 6.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: