Cerpen Non-fiksi

Praktek Kuliah di “Pesantren” Klas IIB Bukit Semut Sungailiat

By: Amiruddin Aziz, Erwin dan Indra Trisnajaya

Rabu, 27 Oktober 2010 adalah hari pertama menjalankan praktik kuliah lapangan di Lembaga Pemasyarakatan Sungailiat. Dalam menjalankan kegiatan ini, pihak kampus mengutus kami sebagai team. Amiruddin Aziz, Erwin, Indra Trisnajaya. Kami bertiga mendapat tugas untuk membina warga lapas alias para tahanan dan narapidana di lapas klas IIB Sungailiat, kabupaten Bangka. Hari pertama ini sangat membuat dada kami berdebar tidak karuan. Perasaan takut, cemas sekaligus penasaran bercampur menjadi adonan yang sulit dilukiskan. Anda barangkali lebih paham dengan apa yang sedang kami rasakan saat itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa segala sesuatu yang masih asing untuk kita lakukan pasti akan menimbulkan berbagai pertanyaan. Apalagi kegiatan itu dilakukan di tempat yang kedengarannya mungkin mengerikan, “lembaga pemasyarakatan”. Apa yang akan dilakukan? Bagaimana suasana di dalam? Bagaimana jika warga binaan tidak memberikan respon yang baik?? Bukankah yang akan dihadapi adalah orang-orang yang akrab dengan tindak kejahatan??? Terbayang rasa ngeri dan takut, namun kami harus bisa menghibur diri dengan berbagai lelucon yang setidaknya membuat hati sedikit tenang.

Mentari yang terselimut awan kelabu tampak mengiringi derap langkah kami. Di saat jam tangan hitamku masih menunjukkan jam 9, ku mulai menyeretkan kaki yang entah mengapa terasa berat, hatiku begitu berdebar tak karuan akan tetapi tekadku begitu kuat, dan keinginananku kian meradang. Kuingin membuktikan apa yang terdapat dalam benakku, kehidupan keras di balik jeruji besi yang jarang diketahui orang-orang umumnya. Setidaknya aku akan mendapatkan jawaban dari daftar pertanyaan dan asumsi awal yang menghantuiku mengenai kehidupan penjara. Aku juga ingin membedah berbagai pemikiran negatif masyarakat pada umumnya tentang sosok-sosok tangguh yang menjalani hari-hari di tempat yang lebih popular dikenal dengan sebutan asrama prodeo.

Derap langkah kami telah sampai di koridor yang terbilan megah. Sesaat kupandang bias papan nama bertuliskan” LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIB SUNGAILIAT”. Menurut informasi yang kami dapat, bangunan ini berdiri kokoh di atas lahan seluas 9999 meter persegi, dengan luas bangunan 1785 meter persegi. Bangunannya super kokoh dengan hiasan pagar berduri di atas tembok setinggi 20 meter. Tampaknya dengan kondisi seperti ini, para napi harus berpikir dua kali untuk kabur. Tambahan lagi dengan aliran listrik dan kamera pemantau yang memperkecil peluang para napi yang nekad untuk sukses melarikan diri. Sementara dalam ruangan yang dihuni kurang lebih 311 orang terdiri dari 119 orang tahanan dan 192 narapidana tersebut dipisahkan oleh sekat-sekat dan blok-blok tertentu. Dengan 27 kamar dan 6 sel. Memang menurut petugas lapas, lembaga ini sudah over capacity , tapi apa boleh buat, demikianlah potret buram lembaga pemasyarakatan di negeri ini dengan segala problematikanya.

Setelah berada di koridor utama, aku  diam sejenak dan sesekali memeriksa bekal yang akan dipresentasikan. Tampak di depan pintu masuk lapas, beberapa petugas berseragam coklat sedang berjaga-jaga dan sesekali melihat ke arah kami dengan tatapan tajam; terkesan menyelidik. Lantas kami bertiga menemui mereka  sambil  melempar senyum murah meriah.  Kami pun  mencoba menyapa dua petugas tersebut, “Pagi Pak” sapa kami bertiga hampir serempak. “Ya, pagi.  Ada perlu apa dik”? jawab seorang petugas yang lebel di seragamnya bertuliskan Zulkarnain. Kemudian Indra menjelaskan “Begini pak, kami ke sini dalam rangka tugas kuliah praktik lapangan, kami utusan dari STAIN, dan sekarang mau bertemu dengan  Pak Ihsan”. Pak Ihsan ini adalah seorang Koordinator lapas yang menangani segala aktifitas yang berkenaan dengan para napi. “O, iya. Ya sudah, silahkan, masuk aja”. Katanya ramah.

Kemudian kami masuk melalui pintu depan dan disambut lagi beberapa petugas. Memang di setiap ruangan selalu dijaga oleh minimal dua atau tiga orang petugas, mungkin hal tersebut untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan seperti kaburnya para napi. “Pagi pak” sapa kami. “Ya, ada apa, bisa dibantu?” kami bertiga segera menjelaskan semua keperluan kami dengan retorika yang cukup baik dan hasilnya segera terlihat, petugas dengan ramahnya mempersilahkan kami menuju ruangan Pak Ihsan yang berada di lantai dua. Setelah bertemu dengan Pak Ihsan, masing-masing kami memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan kami dan terlibat pembicaraan yang panjang lebar. Ternyata respon pak Ihsan pun sangat baik dan welcome sekali. Sesekali beliau bercanda seraya memberikan pengarahan kepada kami. Intinya beliau menyetujui dan memberikan respon yang positif dan bahkan segera merekomendasikan kami untuk membuat program rutin di lembaga ini.

Setelah acara ramah tamah dengan petugas lapas beres, mulailah kami menjalankan  segala visi-misi yang telah dipersiapkan sebelumnya. Segera kami dijemput oleh seorang napi berseragam biru. “Mari Pak”, katanya sambil menuntun kami menuju tempat tujuan. Dengan langkah pasti kami segera beranjak dari ruangan Pak Ihsan menuju masjid AT-Taubah yang merupakan pusat kegiatan kerohanian di lembaga pemasyarakatan ini. Entah mengapa jantung ku mulai berdebar ketika kami mulai menuruni anak tangga satu persatu. Setelah kakiku menginjak anak tangga yang terakhir, ku segera menenangkan diri.

Beberapa petugas lapas yang berjaga-jaga mamandang dengan tatapan yang ramah dan sesekali mengumbar senyuman. Untuk menuju masjid, kami harus melalui pintu besi yang menghubungkan antara masjid dan gedung. Sesampainya dimasjid yang tidak terlalu besar itu, mungkin hanya berkapasitas kurang lebih 100 orang, kami bertiga segera melepas sepatu dan masuk ke masjid dengan mengucapkan salam. “Assalamualaikum,” Segera beberapa orang napi laki-laki dan napi wanita yang sudah bersiap menyambut menjawab salam kami. “Wa’alaikumussalam.” jawab mereka serempak. Kemudian salah seorang napi mempersilahkan kami duduk lesehan di karpet berwarna hijau. Ternyata beliau ini merupakan narapidana yang dipercaya sebagai pengurus sekaligus sebagai ketua masjid At-Taubah. Kami pun duduk sejajar membuat barisan melingkar, dan terlibat obrolan-obrolan santai dengan sang ketua masjid dan beberapa napi lainnya. Segera ku melakukan pendekatan dengan beberapa para napi.

Dalam pengamatanku, tak ada kesan yang mendalam dalam raut wajah para napi ini,  hanya terlihat tersenyum kecil, ku tak tahu apakah senyum tersebut merupakan senyum sepenuhnya atau hanya senyum simpul saja karena aturan yang ada pada lembaga pemasyarakatan tersebut yang mengharuskan mereka berkelakuan baik selama menjalani masa pidana, “ Mari silahkan duduk” perintah beberapa pemuka masjid At-taubah yang terdapat dalam lembaga tersebut.  “Terimakasih” jawab kami serempak.

Untuk beberapa detik, aku terdiam seraya mengamati keadaan di sekitar ruangan masjid di penjara ini. Aku melihat berbagai kesan sederhana dari fasilitas masjid. Tampak tidak ada barang-barang mewah sebagai hiasan. Hanya terlihat dua buah speaker menempel di atas atap masjid. Satu buah whiteboard yang sudah lusuh, sebuah podium atau mimbar kecil sederhana, dan sebuah microphone yang kadang nyala kadang mati. Betul-betul terkesan sederhana sekali.

Namun aku segera sadar bahwa sekarang sedang berada di dalam komunitas pelaku tindak kriminal. Jujur, wajahku dan kedua temanku terlihat tegang. Ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagiku, dan aku kembali terbayang hal-hal yang menakutkan dan mengerikan saat menatap wajah-wajah para napi yang nampaknya kurang bersahabat. Tapi ku harus menepis asumsi dan ketakutanku. Ku singkirkan rasa takut dan tegang yang tak bisa dipungkiri tergambar pada mimik wajahku. Lalu ku berdoa agar rasa takut itu hilang.

Setelah semua kondisi siap dan jam telah menunjukkan tepat pukul 09.30 pagi, satu persatu narapidana lain berdatangan dan segera masuk memenuhi ruangan masjid untuk mengikuti kegiatan ini. Ketua masjid segera memberikan isyarat bahwa kegiatan sudah siap dilaksanakan. Kami pun membuka acara ini dengan perkenalan singkat yang diambil alih oleh Indra. Kemudian dilanjutkan satu persatu sampai kami semua mendapatkan giliran. Kata demi kata kami menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami ke sini. Sesekali Indra berusaha menguasai keadaan dengan gaya bicara yang agak akademis, namun sepertinya para napi agak kesulitan memahami apa yang Indra sampaikan. Karena terlihat kerut kening sebagian para napi yang mungkin sedang berusaha memahami apa yang disampaikan Indra.

Setelah perkenalan singkat, aku pun segera memberikan kertas absensi untuk mendata nama-nama warga binaan yang hadir seraya mengajak mereka berdialog. Kami bertiga sudah mulai terlihat lebih akrab dengan para napi. Ternyata dari dialog yang aku lakukan, mereka sangat antusias dan senang menyambut kedatangan kami. Kesan awal kami yang semula tegang dan menakutkan kini runtuh sudah. Dugaan ku meleset 180 derajat. Kesan yang kini dirasakan sangat bersahabat. Kami disambut dengan suka cita, mereka senang sekali bergaul, berkenalan,  berbagi cerita, curhat dan sebagainya. Aku pun menceritakan kepada mereka tentang asumsi dan kesan awal kami terhadap mereka sebelumnya. Mereka tampaknya memaklumi ketegangan kami dan menyadari bahwa terkadang titel warga binaan yang mereka sandang memang membuat orang cenderung merasa takut.

”Jangan takut selama kita saling  menghargai tidak akan pernah terjadi apa-apa , aku jamin deh” ujar salah seorang napi seraya menampilkan keakraban. Kami pun terlibat pembicaraan panjang lebar. Pembicaraan mengenai kehidupan, putusan hakim, keluarga serta pengalaman masing-masing. “Dak tau ngape lah cek, ne lah kehidupan nek dijalen,  dan mudah-mudahan ada jalan keluar e” ujar napi perantuan ini dengan gaya bicara campuran antara bahasa Bangka dan Indonesia namun terlihat lirih.

. “Firman” alias “Jones” namanya. Pria satu anak ini berusia dua puluh tujuh tahun. Ia adalah terpidana pembunuhan berencana dengan vonis lima belas tahun, dan telah menjalani masa pidana selama empat tahun. Pada saat perjumpaan pertama kulihat ia sedang asyik mengaji. Bagus benar suaranya, gumamku. Dalam hati Aku sangat kagum dengan sosok satu ini. Ya karena pada mulanya sebelum ia masuk bui tak terlintas sedikitpun dalam hatinya belajar mendalami ilmu agama, akan tetapi  setelah ia hidup dalam dunia serba aturan ini,  ia kian menekuni dan mempelajari Al-Quran.

Setelah itu aku mulai menguraikan materi yang telah dipersiapkan  bersama kedua temanku. Materi yang kami berikan lebih terfokus pada materi yang bersifat motivasi  dan membangun spirit hidup. Karena kami rasa materi ini adalah materi yang sangat mereka butuhkan. Kami menganggap materi yang lebih bersifat motivasi dan konseling dapat memberikan kesempatan untuk lebih dekat dengan mereka. Kami ingin tak ada kesan bahwa kami menggurui dan bahkan kami anggap mereka sebagai sahabat. Tampak mereka sangat antusias sekali mendengarkan penjelasanku, dan bersama kedua temanku baik secara personal dan kelompok. Jika pemateri lainya sebelumnya yang hadir hanya empat puluh orang saja akan tetapi ini suasana sangat berbeda yang hadir dua kali lipat dari sebelumnya.

Aku memfokuskan perhatian pada Jones. Aku ingin lebih dalam mengenal kehidupannya. Dialog dan canda sering ku tujukan padanya. Sehingga aku tampak lebih akrab dengan sosok ini. Materi dialog yang aku dan Jones bicarakan semakin dalam menyentuh relung hatinya. Ia sesekali terlihat sedih dan sangat merasa bersalah dan menyesal akan perbuatannya yang mengirimnya untuk menghabiskan waktu lama di penjara ini. ”Cek, ni mungkin jalan terbaik untuk ku, dak tau ngape lah” tukasnya kembali padaku. Ia memanggil aku dengan panggilan “cek”. Panggilan atau sapaan akrab bagiku dan terasa dekat dengan diriku. Kemudian ia menceritakan “lalu lintas” kehidupannya, dari mulai ia mengenal kehidupan hitam dan hingga ia melakukan tindak kejahatan dan akhirnya masuk bui. Hampir semua perilaku kejahatan pernah ia lakukan. Menurut pengakuannya, ia pernah mencuri, narkoba, merampok sampai akhirnya terlibat pembunuhan berencana. Aku pun agak sedikit merasa ngeri mendengar penuturannya. Karena ia merupakan pelaku hamper semua jenis kejahatan.

Tetapi kini ia sudah menyadari bahwa apa yang dilakukannya amat sangat merugikan orang lain. Ia ingin tobat dan meminta maaf kepada orang yang pernah ia sakiti. Bisa kurasakan penyesalan yang luar biasa dalam dirinya. Hal positif yang bisa kudapatkan padanya adalah ia tetap semangat dalam menjalani hari-hari di penjara. Selain itu ia mengaku merasa lebih beruntung walaupun ia masuk bui. Keluarganya masih peduli terhadapnya. Hampir setiap bulan ia dikunjungi oleh ibunda tercinta. Ia bercerita bahwa  ada beberapa narapidana yang sudah tidak diperhatikan oleh keluarganya. Bahkan keluarga mereka telah mengucilkan mereka dan tidak pernah lagi membesuk atau sekadar menanyakan kabar. Aku sempat merenung, betapa tragisnya nasib mereka. Menjalani hari-hari yang panjang di dalam penjara tanpa spirit dan dorongan keluarga, bahkan dikucilkan keluarga karena dianggap menjadi aib. Aku pun berandai-andai. Jika ini terjadi pada diriku, aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Ya Allah, mudah-mudahan mereka selalu berada dalam lindunganmu.

Dialog yang kulakukan dengan Jones semakin intens. Ia sudah mulai terbuka menceritakan problematika kehidupannya. “Aku dulu sekolah, tapi hanya tamat SD, pahamlah kite same-same tau, cemane perangai budak Bangka Selatan” tuturnya kembali sambil mengingat kenangan kelam pada masa silamnya. Ya, kehidupan memang dinamis dan tak terduga. Itulah kata-kata terakhirku terhadap Jones di pertemuan ini.

Hari berikutnya aku bersama kedua temanku kembali mengisi kegiatan di penjara seperti biasanya. Di pertemuan ini kami lebih bertindak seperti seorang psikiater yang sedang melakukan identifikasi masalah. Kami pun melakukan diagnosa psikologis terhadap para napi dan tentunya tak lupa memotivasi mereka. Bagi mereka mungkin hanya menganggap dialog dan pertanyaan-pertanyaan yang kami tujukan hanyalah merupakan bincang-bincang biasa. Padahal ini adalah teknik kami untuk lebih jauh mendalami problematika mereka. Selain itu kesempatan ini aku manfaatkan untuk memberi pencerahan secara personal, terlihat cara ini sangat efektif sekali bagi para narapidana termasuk Jones yang telah ku ceritakan sebelumnya. Ia pun terbilang antusias mengikuti aturan main kami. Intinya ia ingin berbagi dan mencari solusi dari permasalahan dan beban psikologis yang berat. Namun sebagian napi yang lain ada yang malu dan cenderung tertutup dalam mengungkapkan permasalahannya. Kami pun sedikit mengerti akan hal ini. Mungkin mereka tidak ingin mengungkapkan problematikanya karena malu.

Hari-hari kami dalam menjalani kegiatan di penjara ternyata cukup mengasyikkan. Selain sambutan para napi yang ramah, kami juga ditemani beberapa ustad yang memang mempunyai jadwal ceramah rutin di penjara ini. Ustad Farhan, Ustad Zarkasyi adalah dua nama yang sering menemani kami di sini. Tak jarang kegiatan ceramah kami lakukan secara bergantian dengan tema yang sudah dipersiapkan sebelumnya atau dengan tema bebas dan diskusi bersama, bertukar pikiran dan tanya jawab mengenai masalah agama sampai masalah pribadi. Hal-hal lucu pun seringkali terjadi. Seperti napi yang malu-malu menceritakan masalah pribadinya sampai perdebatan di antara para napi mengenai masalah agama. Selain itu ternyata ada juga napi yang cerdas, sering melontarkan pertanyaan kritis. Tak jarang kami sampai kewalahan menjawab pertanyaan mereka. Rupanya napi yang kritis ini merupakan pegawai pemerintah yang tersandung kasus korupsi. Pantas saja setiap argumennya terlihat lebih berbobot dibanding dengan napi yang lain.

Sosok lain yang menjadi perhatian kami adalah seorang narapidana laki-laki yang sering kali duduk tepat di barisan depan. Namanya Rahmat alias Amat. Secara fisik, postur tubuhnya pendek, kurus, dan terkesan sangat sederhana. Dengan mengenakan baju koko putih, sarung berwarna hijau dan peci putih. Ternyata usianya masih sangat muda, 15 tahun. Saat berlangsungnya diskusi, ia tidak terlalu sibuk, ia cenderung lebih pendiam dengan kepala menunduk mendengarkan diskusi dan sesekali ia menempelkan kepalanya ke dinding seraya tersenyum saat melihat ke arah ku. Di pertemuan ini aku belum bisa berkenalan lebih jauh dengannya. Mungkin ia masih merasa canggung dan malu untuk bercerita. Kegiatan yang dilaksanakan hanya berdurasi antara 1,5 jam-2 jam saja, jadi saat jam menunjukkan waktu pukul 11.00 kami bersiap-siap untuk pulang.

Pada hari selanjutnya kami bertiga kembali mengisi kegiatan untuk para warga binaan. Seperti hari sebelumnya, kegiatan dilakukan di masjid yang menjadi pusat kegiatan. Hari ini tampaknya tidak ada perbedaan kondisi yang signifikan dari kemarin, kegiatan pun berlangsung kondusif diisi dengan kegiatan konseling, taushiyyah dan pengajian. Warga binaan pun sangat responsif dengan kegiatan-kegiatan itu, tidak terkecuali narapidana yang kemarin menarik perhatianku. Di pertemuan ini aku mendapat kesempatan untuk berkenalan dengannya. Kebetulan ia duduk di sebelahku. Inilah kesempatannya, pikirku. Kuperhatikan ia masih menggunakan kostum yang kemarin ia gunakan. Koko putih, sarung hijau dan peci putih. Matanya sendu, pendiam dan tampak ramah. “Gimana kabarnya?” segera ku membuka pembicaraan. “baik,” jawabnya dengan nada malu-malu. “Namanya siapa dan kamu asalnya dari mana?” Tanyaku menginterogasi tetapi dengan nada yang lembut tentunya. “Namaku Rahmat, dari desa Nibung”, tampak dia sambil tersenyum hingga tampak gigi-giginya. Tapi ku tidak menanyakan mengapa ia bisa sampai masuk ke sini karena kupikir hal tersebut akan membuatnya tersinggung.

Setelah itu aku dan Rahmat terlibat obrolan yang panjang lebar. Ia bercerita bahwa ia juga punya punya kerabat di daerah rumahku. Dari obrolan itu pula akhirnya aku mengetahui bahwa ia pelaku kasus pembunuhan dua tahun silam. Sontak aku terkejut. Bagaimana mungkin anak usia 15 tahun bisa terlibat kasus pembunuhan. Setelah berbincang lebih lanjut, ternyata ia tidak sendiri dalam melakukan pembunuhan. Ada tiga pelaku. Tetapi hanya ia sendiri yang tertangkap dan diadili. Ibunya stress berat menerima kenyataan bahwa ia harus dihukum. Namun apa boleh buat, semua telah terjadi. Kini ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Malangnya, baru seminggu ia menjalani hari-hari yang tidak menyenangkan di penjara, ibunda tercintanya meninggal dunia karena tidak kuat menanggung beban psikologis dan stress berat. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Rakhmat saat itu.

Timbul perasaan was-was dan iba juga saat mendengar ceritanya. Kulihat matanya berkaca-kaca. Ia sangat menyesali perbuatannya. Malang benar nasib Rakhmat, batinku. Aku pun sadar bahwa posisiku di sini adalah sebagai seorang motivator dan konselor. Aku harus membuat Rakhmat lebih kuat dan tegar menjalani kehidupan. Sebagai motivator sekaligus konselor, aku dan kedua temanku harus mampu memberikan pengertian serta solusi kepada Rakhmat dan juga napi-napi lain yang membutuhkan sentuhan psikologis.

Setelah terlibat pembicaraan selama kurang lebih 15 menit itu, Rahmat semakin terbuka untuk berbagi pengalaman. Ia tampak lebih bersahabat daripada persepsi awalku terhadapnya. Seperti kemarin, pada pukul 11.00 kami bersiap untuk pulang. Dengan nada lirih, Rahmat mengucapkan terima kasih. “Makasih ya udah mau datang” katanya. “Sama-sama” balasku.

Di pertemuan selanjutnya masih seperti hari sebelumnya, kami bertiga siap untuk memberikan materi kepada para narapidana. Sesampainya di masjid tampak beberapa napi sudah bersiap untuk mengikuti kegiatan. Di sudut kanan masjid seorang laki-laki muda mengenakan koko putih, sarung hijau dan berpeci putih sudah bisa saya pastikan bahwa ia adalah Rahmat. Ia tampak sibuk membaca Iqra’. Dengan membungkukkan badan, segera kuhampiri dengan mengucapkan salam dan bertanya kabar masing-masing. Dalam beberapa kali pertemuan sebelumnya, Rahmat selalu datang lebih awal dari pada teman-temannya yang lain. Sehingga menyimpan pertanyaan tersendiri di dalam lubuk hatiku apa yang menjadi alasan dan tujuannya mengikuti kegiatan itu secara rutin dan antusias.

Aku pun kembali berdialog dengannya. Dari hasil diskusi dan obrolan santai tersebut, ku tahu bahwa Rakhmat butuh teman curhat yang bisa memberikan motivasi dan semangat baginya. Ia menganggap bahwa kami adalah orang yang tepat untuk itu. Selain itu ia juga senang bisa dikunjungi oleh kami. Menurut pengakuannya, ia merasa lebih diperhatikan jika kami datang dan sering berdiskusi dengannya. Kehidupan di penjara memang bagaikan burung dalam sangkar. Kita tidak perlu repot atau bersusah-payah untuk mencari makan. Karena telah disediakan di sini. Namun hidup dibalik jeruji besi telah merenggut kebebasan kita. Tak ada artinya hidup tanpa kebebasan untuk berbuat. Di penjara, semuanya dibatasi jalinan besi-besi kokoh. Semuanya serba disiplin, harus mengikuti aturan main yang telah ditetapkan pihak lapas. Jika mereka mengikuti aturan tersebut, mereka selamat, tapi jika melanggar, mereka dilumat.

Tetapi ada juga mereka yang enjoy hidup di penjara. Mereka mengaku banyak hal bermanfaat yang bisa didapat. Semula mereka tidak bisa membaca Al Qur’an, tidak bisa baca tulis, tidak mempunyai keterampilan apa-apa. Setelah menjalani hukuman di penjara, mereka kini bisa membaca Al Qur’an, bisa membaca dan menulis, mempunyai keterampilan bertukang, menjahit, dll.

Tak terasa kegiatan kami telah sampai di penghujung pertemuan. Banyak kesan dan harapan pada masing-masing diri kami dan juga para napi. Kesan yang kami rasakan adalah bahwa ternyata para pelaku kejahatan yang berada di penjara tidak seburuk yang kebanyakan orang-orang bayangkan. Mereka sosok yang ramah, sosok yang tegar menjalani kehidupan di penjara.

————

Sebulan kemudian, “der,…deeer….deeer …” getar handphoneku berbunyi. Sebelum kuraih handphone, kulihat jam dinding menunjukankan pukul 22,15. Kemudian kuraih handphoneku. Kudapati pesan pendek di dalamnya dari nomor yang tidak ku kenal. Lalu kubaca isi sms tersebut: “Apa kabar teman? Kapan datang lagi ke pesantren Lapas Sungailiat? Temen-temen sudah kangen pengen ketemu! Salam, Jones.”

Segera kuingat sosok Jones, tetapi mataku kian berat dan tak sempat kubalas sms-nya. Kantuk dan letih badanku setelah sparing volley sore itu membuat mataku semakin terpejam jauh. Sesaat setelah itu kurasakan aku berada di masjid lapas sedang berbincang akrab dengan Jones. Aku merasa sangat senang berada di antara kerumunan warga binaan ini. Namun rasa itu tak berlangsung lama karena aku merasa tubuhku berguncang hebat. Lalu kulihat sosok yang kubanggakan sedang menggoyang tubuhku. “Sholat subuh!”, katanya. Aku masih terbaring dan termenung seraya bergumam, “Ya Allah, ternyata ku bermimpi.”

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: