NILAILAH ORANG DARI AMALNYA


Sebagai umat yang dibesarkan dalam lingkungan beragama, kita sepakat bahwa agama itu bagaikan cahaya yang mengusir kegelapan dan menunjukkan jalan terang. Agama ibarat limpahan air sehingga memberikan kesejukan dalam kehidupan. Namun selain sebagai alat pemersatu sosial, agama pun bisa menjadi salah satu unsur pemicu konflik dalam  masyarakat. Dalam konteks agama, problem yang sering kali muncul adalah ketika menemukan fenomena kegiatan dakwah demi menyebarkan paham keagamaan, namun kemudian dianggap sebagai kebenaran itu sendiri. Sementara orang lain sering kali dianggap salah, sebagai orang yang harus diselamatkan, dan orang yang harus ditarik ke jalan yang benar. Cara pandang keagamaan semacam ini menurut Rumadi akhirnya tidak lagi menyelaraskan antara satu agama dan yang lain, tetapi mendestruksi tatanan masyarakat yang ada. Persoalan yang muncul kemudian adalah perdebatan, saling caci, perselisihan dan seterusnya. (Imdadun Rahmat, Islam Pribumi:191) Dan akhir-akhir ini paham keagamaan yang berkembang menurut Komaruddin Hidayat malah dirasakan pengap dan mendorong perselisihan. Tentu paham dan praktek keberagamaan demikian tidak sehat. Jika diperhatikan secara sadar dan jujur, dalam realitas sosial sekarang sering dijumpai masyarakat yang begitu gampangnya menggunakan simbol agama, ternyata juga sangat mudah terjatuh pada sikap brutal yang melecehkan nilai-nilai kemanusiaan. (Komaruddin Hidayat, Memaknai Jejak-Jejak Kehidupan: 151)

Hal ini bisa dilihat dari suburnya gerakan ormas-ormas Islam yang tak jarang dalam setiap kegiatannya malah terkesan eksklusif dan fanatik. Seperti yang pernah penulis alami ketika pernah sekadar berdiskusi atau mencoba ikut ke dalam pengajian ormas-ormas tersebut, penulis menemukan banyak sekali doktrin-doktrin yang menyuburkan pemahaman sempit dan bahkan malah menanamkan kebencian kepada kelompok lain. Klaim kebenaran yang disampaikan sampai-sampai membentuk karakter berpikir picik jamaahnya sehingga mereka sering menempelkan lebel kafir atau sesat kepada umat Islam yang berlainan pemahaman dengan mereka. Tentunya hal ini menciptakan iklim keberagamaan yang sangat tidak sehat.

Kondisi demikianlah yang mendorong penulis untuk dapat memberikan sedikit pandangan terbuka mengenai permasalahan ini. Karena menurut perspektif penulis kondisi keberagamaan demikian malah bisa-bisa menciptakan situasi ketidakharmonisan dan benturan pemahaman yang dikhawatirkan apabila kondisi demikian terus-menerus dibiarkan maka kedamaian dalam menjalankan Islam yang selama ini terjaga akan terusik di Bumi Serumpun Sebalai ini. Pemahaman yang demikian mendorong orang untuk menilai seseorang dari sudut pandang fikih yang ia jalani. Sehingga terbentuklah sektarianisme (pemecahbelahan umat kepada beberapa golongan).

Sebenarnya jika timbul pendapat yang berbeda-beda menurut penulis hal tersebut merupakan hal yang biasa dan wajar. Bahkan hal tersebut harus kita hidupkan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Akan tetapi persoalan ini menjadi suatu tantangan manakala setiap orang memutlakkan pendapatnya dan menganggap pendapatnya atau pendapat golongannya sendiri yang paling benar, dan kemudian tidak menghargai pendapat orang lain. Atau ia merasa bahwa mazhabnya atau pendapat partai atau ormasnya sajalah yang paling benar, lalu dengan mudah mengkafirkan orang lain. Sikap seperti inilah yang penulis temui dan ada di antara kita sehingga tak jarang memicu timbulnya perpecahan di antara kaum Muslim.

Dengan demikian, menurut Azyumardi Azra bahwa konsep Islam sendiri tidak luput dari sasaran keraguan karena banyaknya pemaknaan terhadap agama ini. Konflik antar Muslim seringkali tidak bisa diremehkan, atau dipandang sebagai fenomena semu, karena  biaya yang harus dibayar sedemikian tinggi (Riaz Hasan, Keragaman Iman, Studi Komparatif Masyarakat Muslim: xvi-xvii). Praktis menanggapi situasi ini, tidak sedikit  kritik yang dilontarkan orang mengingat dimensi kemanusiaan dalam Islam berupa nilai-nilai yang menjunjung kebersamaan, solidaritas sosial, kasih sayang, gotong-royong antar sesama mulai tergeser kepada nilai-nilai yang sifatnya destruktif ketika tiap gerakan keagamaan terjebak dalam klaim kebenaran (truth claim).

Menurut penulis hal yang perlu dilakukan umat Islam dewasa ini dalam rangka menjaga harmonisasi kehidupan beragama adalah menanamkan sikap menghargai pendapat yang lain dan mengurangi keyakinan yang terlalu berat terhadap pendapat kita sendiri. Penulis sangat sepakat ketika kita membiasakan mengatakan, “Inilah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah sepanjang pemahaman saya,” Penulis menganjurkan agar ditambah dengan kata sepanjang pemahaman saya. Sebab kalau kalau kita hanya memakai kalimat, “Menurut Al-Qur’an dan Sunnah,” dan kemudian ada orang yang mempunyai pemahaman yang berbeda dengan kita, maka kita anggap pendapatnya itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Jadi ungkapan yang sesuai untuk menyampaikan persoalan itu ialah kalimat, “Tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sepanjang pengetahuan saya.”

Kemudian yang paling penting adalah kita tidak boleh mempunyai kecenderungan untuk menilai orang lain dari pendapatnya atau dari fikih atau mazhab yang ia jalani. Kita tidak boleh bersikap jika ada seseorang yang pendapatnya sama dengan kita, maka ia termasuk ikhwan, dan kalau pendapatnya tidak sama dengan kita, maka orang itu bukan ikhwan. Penulis juga prihatin ketika banyak dari kita menilai seseorang itu baik atau shaleh ketika yang bersangkutan sering ke masjid, ketika ia sering memberikan khutbah di mimbar-mimbar, atau ketika ia sudah menyandang titel haji pada namanya. Padahal seperti yang dikatakan Nurcholish Madjid bahwa keshalehan bukan diukur ketika seseorang berada di masjid, tetapi keshalehan terlihat dari perilaku seseorang di ruang publik. Tentu hal ini sangat benar adanya mengingat tak jarang kita jumpai ustad-ustad, pak haji, pejabat pemerintah, guru atau oknum di kementrian agama yang mempunyai akhlak yang tidak terpuji. Tak jarang mereka menggunakan wewenang untuk melakukan korupsi, kolusi. Mudah juga menemukan oknum pejabat yang pura-pura shaleh sebelum menjadi pejabat, dan hura-hura setelah mendapat kedudukan.

Untuk itu kita harus mulai menanamkan untuk tidak menilai orang lain dari pendapatnya kecuali untuk tujuan ilmiah, dan tidak menilai orang lain dari profesinya. Maka nilailah setiap orang dari aspek amal dan perbuatannya. Tak peduli apakah ia kyai, ustad, anggota dewan, gubernur, tukang bangunan, pelimbang timah, pegawai pemerintah, dosen, guru, dll, maka nilailah dari apa yang mereka lakukan. Nilailah dari apa yang mereka lakukan dalam keseharian, atau apa yang mereka lakukan kepada yang lain. Bukankah hal seperti itulah yang dianjurkan oleh Al-Qur’an?

Dan masing-masing orang memperoleh derajat yang seimbang dengan apa yang dikerjakannya ….. (QS 6: 132)

Setiap orang diukur derajatnya sesuai dengan amal perbuatannya. Karena itu apa pun jenis pendapat, ormas, partai, kyai, ustad yang kita temui, asalkan akhlaknya baik dan mereka mau berbuat baik untuk kemajuan Islam serta tidak menganjurkan perpecahan, maka kita ikuti pesan-pesan kedamaian dan kemajuannya. Mari kita nilai sesuatu dari amalnya, apa kontribusinya, dan apa jasanya untuk pengembangan kebesaran Islam dan kaum Muslim. Seperti sabda yang mulia Rasulullah Saw ketika ditanya tentang apa yang disebut dengan jihad fi sabilillah, dan apa definisinya. Nabi menjawab singkat bahwa jihad fi sabilillah itu ialah jihad litakuna kaliimatullah hiyal-‘ulya, yakni perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah. Siapapun yang melakukannya, apa pun golongannya, apa pun pendapat yang mereka kemukakan, selama ia berjuang untuk menegakkan kalimat Allah tanpa membumbui dengan menanamkan kebencian terhadap yang lain, maka mereka adalah saudara kita dalam agama.

Pesan yang penulis tekankan dalam tulisan ini adalah jangan mudah terpesona dengan kemasan dan label seseorang atau organisasi, karena belum tentu apa yang mereka sampaikan dalam rangka menjaga ukhuwah, persatuan dan kemajuan umat. Biasakanlah menilai dan mencontoh seseorang atau ormas dari amal dan perbuatannya. Jika mereka berbuat kebaikan dan selalu menjaga solidaritas dan memupuk kemajuan umat, maka kita harus mendukungnya. Apa pun ormasnya, siapa pun orangnya. Tetapi apabila mereka senantiasa menebarkan perselisihan, keburukan akhlak, kebencian atau kelicikan, maka janganlah sekali-kali kita menanamkan bahkan mengamalkan apa yang mereka sampaikan atau contohkan. Nilailah seseorang dari amalnya!

By: Indra Trisnajaya

 

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: