Kita Belum Dewasa


 

Ada banyak teori dan pendapat para ahli mengenai psikologi perkembangan anak. Terutama hal yang berkaitan dengan periodisasi perkembangan manusia dilihat dari aspek biologisnya. Kretschmer, Aristoteles, Freud, dan Jesse Feiring Williams telah membagi periodisasi perkembangan manusia menjadi tahapan-tahapan berkelanjutan (Abu Ahmadi & Munawar Sholeh: 2005). Di mana dalam tahapan-tahapan tersebut ditandai dengan ciri kebutuhan dan pola perilaku masing-masing periode. Memang terdapat sedikit perbedaan masing-masing teori dalam membagi periodisasi perkembangan. Namun hal yang ingin penulis tekankan adalah pada masa kanak-kanak terdapat pembagian-pembagian periode yang sangat kompleks.

Dalam membahas masalah ini penulis merasa tertarik untuk memilih teori Freud karena keunikan tersendiri. Adalah sesuatu yang menarik sekali bilamana kita telaah lebih jauh mengenai teori perkembangan anak yang dikeluarkan oleh Sigmund Freud (1856-1939) dan kaitannya dengan sebuah pertanyaan sederhana: apakah benar kita sudah dewasa secara hakiki?

Freud  dalam psikologinya membagi tahapan-tahapan perkembangan anak menjadi beberapa fase sesuai dengan perkembangan kebutuhan anak dalam memperoleh kenikmatan. Ia menerangkan bahwa pada tingkatan anak-anak, kebutuhan manusia hanya berkaitan dengan hal-hal konkret, yang bisa terlihat dan terukur saja. Pada masa ini anak-anak cenderung ingin mendapatkan kebutuhan tersebut dengan cara yang sesegera mungkin dalam rangka untuk memuaskan hasrat kekanakannya. Hasrat ini hanya berupa hal yang bersifat menyenangkan. Inilah yang disebut dengan prinsip kenikmatan.

Angela Oswalt mengatakan fase-fase perkembangan manusia yang dikemukakan Freud terdiri dari enam fase: Fase oral, anal, falis, laten, pubertas dan fase genital. Dan berdasarkan kriteria usia yang dijelaskan, tampaknya fase oral, anal dan falis adalah fase yang berada pada masa kanak-kanak. Inilah yang akan dijelaskan lebih jauh.

Fase oral

Pada fase ini usia anak sekitar 0 sampai 1 tahun. Menurut Freud, letak kenikmatan pada periode yang paling awal (fase oral) dalam perkembangan kepribadian anak adalah pada mulutnya. Bisa dibuktikan, kalau anak tersebut lapar, maka dengan segera ia menangis dan menuntut untuk segera diberi makan atau minum. Anak-anak menemukan kenikmatan ketika ada sesuatu yang masuk melalui mulutnya; seperti pengalaman pertama ketika ia menyusui pada ibunya. Dan beberapa waktu setelah itu ia akan mempunyai kecenderungan untuk memasukkan apa saja ke dalam mulutnya. Jika ia telah mulai belajar berjalan, maka ia akan menggapai apa saja yang bisa ia raih untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Jika tidak ada yang bisa diraih maka dia pastinya akan memasukkan tangannya sendiri ke dalam mulutnya.

Fase anal

Usia anak sekitar 1 sampai 3 tahun. Pada fase ini kenikmatan telah berkembang. Kenikmatan tidak hanya terletak pada mulut. Anak mendapatkan kenikmatan pada saat ia mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya. Seperti ketika ia buang air besar dan kecil. Dan banyak kejadian yang sering kita jumpai, anak-anak pada masa ini senang berlama-lama berada dalam toilet atau kamar mandi. Ia senang melihat bahkan mempermainkan tumpukan kotorannya.

Fase falis

Anak-anak pada fase ini berusia 3 sampai 5 tahun. Pada fase ini kenikmatan mulai bergeser ke arah kelaminnya. Dia cenderung senang mempermainkan dan memperlihatkan kelaminnya pada orang tuanya. Disebutkan juga dalam buku Psikologi Perkembangan (Abu Ahmadi) bahwa fase ini alat-alat kelamin merupakan daerah organ paling perasa.

 

Jalaluddin Rakhmat tampak lebih menarik ketika mengaitkan psikologi perkembangan anak dengan gejala kehidupan sosial masyarakat modern yang terjadi saat ini. Ia menyimpulkan bahwa seluruh kebutuhan manusia pada masa kanak-kanak itu bersifat fisik. Dan menurutnya apa yang terjadi pada banyak masyarakat modern kini –pada orang-orang tertentu- kepribadiannya terhambat, tidak berkembang. Sehingga ia menilai banyak masyarakat yang terjebak dalam fase kanak-kanak, mengalami hambatan perkembangan kepribadian. Atau istilahnya mengalami fiksasi. Misalnya, ada orang yang terhambat kebutuhannya pada fase oral saja. Walaupun secara usia sudah dewasa atau bahkan sudah tua tetapi ia hanya memperoleh kenikmatan dari makan dan minum. Mungkin banyak kita jumpai tipe orang yang sepanjang hidupnya hanya mengabdikan dirinya pada makan dan minum. Atau merasa nikmat apabila makan secara rakus dalam artian yang sebenarnya ataupun makan secara rakus dalam tanda kutip. Seperti mengubah makan dan minum itu ke dalam bentuk simbol, misalnya dalam bentuk pemilikan kekayaan/ materi secara rakus, tidak ingat terhadap pesan sosial agama. Fenomena korupsi yang terus saja terjadi saat ini secara terbuka telah menunjukkan bahwa mental oknum pejabat kita yang sangat kekanak-kanakan sekali. Ia terjebak pada kenikmatan memperkaya diri dengan tidak mempertimbangkan apakah perbuatannya itu kotor atau berakibat fatal bagi kehidupan masyarakat. Ia seperti seorang anak yang senang memasukkan apa saja ke dalam mulutnya, tidak peduli apakah barang tersebut kotor dan banyak kuman sehingga menyebabkan anak itu sakit dan pada akhirnya menyusahkan atau lebih halusnya membutuhkan pertolongan keluarganya.

Ada juga orang yang terperangkap pada fase anal. Seperti yang dijelaskan Jalal bahwa orang modern adalah orang yang kerjanya menumpuk kekayaan. Ia akan memperoleh kenikmatan apabila ia melihat banyaknya kekayaan yang sudah ia tumpuk dalam rumah atau brankas yang dimilikinya. Pandangan Freud tampaknya lebih ektrem tatkala ia mengatakan orang modern adalah orang yang sakit jiwa, mereka adalah orang-orang yang terhambat dalam perkembangan kepribadiannya. Lalu apakah pandangan Freud ini sesuai dengan realitas yang sedang terjadi saat ini?

Penulis sepakat ketika Jalal melihat adanya kesamaan antara aktivitas anak yang senang melihat tumpukan kotorannya dengan  orang-orang modern yang senang menumpuk hartanya. Orang-orang yang senang melihat jumlah tabungan depositonya bernilai besar dan takut membelanjakannya atau mendermakannya untuk kegiatan sosial karena jumlah uang itu akan berkurang, maka ia sesungguhnya orang yang terjebak pada fase anal. Kepribadiaannya tidak berkembang dan mengalami fiksasi pada fase ini.

Jalal memberikan contoh seorang ibu yang kesehariannya makan dengan menu seadanya. Ia mencari lauk dengan merendam diri di sungai untuk mendapatkan ikan, dan penampilannya pun sangat sederhana. Ketika ia meninggal, orang-orang menemukan pakaian yang bagus-bagus di lemarinya. Orang-orang tidak pernah melihat ia memakai pakaian itu. Dan orang kampung pun kebingungan. Jalal mengatakan ibu itu adalah orang yang sangat menderita dalam hidupnya. Ia memperoleh kenikmatan tidak dengan menggunakan hartanya. Ia memperoleh kenikmatan ketika membuka dan memandang tumpukan baju bagus di lemarinya. Jalal mengatakan bahwa penumpukan kekayaan yang dibeli dengan pengeluaran itu sebenarnya adalah pemuliaan atau sublimasi dari kenikmatan melihat kotoran.

Penjelasan-penjelasan tersebut merupakan potret keadaan masyarakat modern saat ini. Disadari atau tidak terkadang banyak dari kita yang mengalami hambatan perkembangan kepribadian sehingga menyebabkan tingkah laku kita sejatinya tak lebih dari sublimasi ciri pribadi kekanak-kanakan. Seharusnya jika kita tidak terhambat dalam perkembangan kepribadian, kita akan menjadi manusia dewasa seutuhnya. Maka kebutuhan kita memasuki tahap yang abstrak, yang kemudian disebut dengan kebutuhan ruhani.

Abraham Maslow membuat piramida kebutuhan manusia. Pada piramida tersebut terlihat semakin tinggi bagian piramida, semakin abstrak pula kebutuhannya.pada tingkat yang paling bawah, manusia hanya memenuhi kebutuhan makan dan minum. Ia hanya memuaskan kebutuhan biologisnya. Bila kebutuhan biologis itu sudah terpenuhi, kebutuhannya akan naik pada tingkat selanjutnya. Dan kebutuhan di atasnya adalah kebutuhan non-fisik atau kebutuhan yang sifatnya abstrak. Seperti kebutuhan sosial, misalnya kita akan memperoleh kebahagiaan jika melepaskan penderitaan orang-orang miskin, kebutuhan akan intelektual, rasa aman, kasih sayang dan aktualisasi diri. Jalal meng-istilahkan dengan kebutuhan akan al-takamul al ruhani, proses penyempurnaan spiritual yang merupakan tingkat kebutuhan manusia yang paling tinggi. Jadi, kebutuhan manusia dewasa ialah ketika orang berusaha memenuhi kebutuhan ruhaninya, bukan terjebak pada kebutuhan fisiknya. Jika kita sudah sampai pada tahap kebutuhan ini, maka kita akan menjadi manusia yang ideal dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Karena kita sudah bisa mengendalikan apa yang seyogyanya menjadi kebutuhan kita dan melepaskan pengaruh kebutuhan masa kanak-kanak pada diri kita. Pengertian inilah yang patut kita sadari dalam aspek praktis perilaku kepribadian.

Jika seperti itu idealnya perkembangan kepribadian yang menyangkut kebutuhan manusia, maka kita bisa refleksi diri dan bertanya pada diri sendiri: sudah dewasakah kita?

 

By: Indra Trisnajaya

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: