Islam Formalitas


Saya ingin mengawali tulisan ini dengan mengutip kisah yang ditulis Jalaluddin Rumi dalam buku Reformasi Sufistik-nya Jalaluddin Rakhmat. Alkisah ada seorang muazin yang mempunyai suara yang sangat jelek. Ia mengumandangkan azan di negeri orang-orang non-Muslim. Jemaah Muslim yang lain membujuknya untuk tidak melantunkan azan karena dikhawatirkan suara itu akan mengganggu orang-orang non-Muslim. Mereka khawatir orang-orang non-Muslim keberatan, bahkan mungkin azan tersebut bisa memicu kerusuhan sosial. Tetapi sang muazin tersebut menolak bujukan kawan seagamanya tersebut. Bahkan dia memarahi kawan-kawannya seraya menuduh bahwa kawannya itu melarangnya untuk menegakkan sunnah Rasulullah Saw. Ia menganggap umat Islam sudah kehilangan ghirah agamanya. Mereka sudah menjadi umat penakut, terlalu mengalah pada orang kafir. Mempunyai iman yang lemah karena sudah mencampakkan syariat hanya untuk kepentingan kesatuan dan persatuan.

Jadi dengan alasan tersebut, ia menjadi lebih semangat. Kawan-kawannya yang lain pun tidak bisa berbuat banyak dan gagal melarangnya. Ia berazan lagi dengan semangat yang lebih tinggi dan suara yang lebih jelek lagi. Kaum Muslim yang lain pun tampak pasrah dan menunggu dengan cemas ledakan kemarahan kaum kafir. Lalu tak menunggu waktu yang lama apa yang dicemaskan tersebut pun tiba. Maka datanglah seorang kafir dengan tergopoh-gopoh ke Masjid. Ia membawa manisan, lilin dan jubah yang bagus. Ia bertanya, “Mana sang Muazin yang suaranya selalu menambah kebahagiaanku?” Kaum Muslim pun tampak heran. Mana mungkin suara teramat jelek yang sangat tidak enak didengar itu menyenangkan siapa pun, apalagi orang kafir. “Suara panggilan sholat itu terdengar di gereja kami,” kata tamu non-Muslim. “Aku mempunyai seorang anak gadis yang cantik jelita. Ia ingin menikah dengan seorang Mukmin sejati. Keimanannya sangat bergelora. Aku takut keimanannya itu akan membawanya kepada Islam. Setiap hari aku tidak bisa tidur dengan tenteram. Aku khawatir ia akan meninggalkan agamaku. Aku tak tahu bagaimana caranya menghilangkan kecemasanku ini. Sampai suatu saat ia mendengar suara azan. Ia berkata kepada adiknya, ‘Gerangan apa suara yang sangat menyakitkan telinga ini? Belum pernah sepanjang hidupku aku mendengar suara seperti ini di gereja atau biara’. Adiknya berkata, ‘Suara itu namanya azan. Dengan suara itu orang Islam dipanggil untuk melakukan sholat.’ Ia tidak percaya. Ia bertanya kepada orang untuk meyakinkan hatinya. Setelah tahu pasti suara itu adalah azan, air mukanya berubah. Aku melihat kebencian pada mukanya. Betapa senangnya hatiku. Lepas sudah segala kecemasan dan ketakutanku selama ini. Karena itu aku ingin menyampaikan terima kasihku kepada kawan kalian itu. Duhai sang muazin, terimalah hadiah ini.” (Jalaluddin Rakhmat, Reformasi Sufistik:142-143)

Dalam cerita yang ditulis Jalaluddin Rumi ini bisa dilihat bahwa sang muazin sedang berusaha menegakkan syariat Islam. Sang muazin sangat memperhatikan aspek lahiriah ajaran agama dan berusaha melakukannya, sekalipun bertentangan dengan maksud syariat itu. Azan dimaksudkan untuk memanggil orang kepada Tuhan. Sang muazin meneriakkan azan sesuai dengan ketentuan syariat, tetapi azan itu tidak memenuhi tujuan syariat. Pengamalan syariat semata tetapi tidak mencapai tujuan syariat tersebut tidak akan mendekatkan orang kepada Tuhan. Bahkan bisa jadi malah sebaliknya. Mengapa? Karena apa yang dikerjakannya hanya sebatas ritualistik lahiriah yang kering makna bahkan sama sekali tidak mengena terhadap tujuan hakiki yang ingin dicapai.

Di kehidupan sekitar kita sekarang ini pun banyak kita temui umat Islam yang hanya memperhatikan aspek lahiriah saja dalam menjalankan agama. Bentuk keberagamaan sebagian besar dari umat saat ini hanya mengedepankan aspek ritual. Umumnya umat Islam sekarang sudah merasa cukup dengan hanya beribadah kepada Allah. Sholat, puasa, haji,  ditegakkan. Ditambah puasa sunnah, sholat malam, membaguskan bacaan Qur’an sudah membuatnya  merasa shaleh. Namun hal terpenting akan ajaran agama telah dihilangkan. Kita lupa bahwa sholat tak ada artinya bila tidak mencegah kekejian dan kemungkaran. Haji kita tak bermakna bila kita tidak meninggalkan rumah kita yang sempit (egoisme) dan tidak mengarahkan seluruh kehidupan kita ke rumah Tuhan. Sebagian besar umat kita juga umumnya merasa bangga dengan sholat malam, merdunya bacaan Qur’an, ibadah haji dan umroh yang berkali-kali dilakukan sehingga lupa dengan akhlaknya di tengah-tengah masyarakat. Seperti yang dikatakan Ulil Abshar Abdalla bahwa umat Islam saat ini lebih sibuk bertanya mengenai apa hukumnya makan ini atau itu, memakai ini atau itu, meminum ini atau itu. Umat Islam risau tentang apa pandangan Islam dalam hal musik, menggambar, piara anjing, jenggot. Tetapi dalam kehidupan nyata umat Islam banyak yang tidak disiplin, anti antri, melanggar lalu lintas, main hakim sendiri, penyalahgunaan wewenang, korupsi, kolusi, dll. (Ulil Abshar Abdalla, Menjadi Muslim Liberal: 15)

Mungkin dalam cerita tersebut Rumi ingin mengingatkan kepada kita sebagai umat Islam bahwa kita harus menampilkan wajah Islam yang merdu dan menentramkan, bukan yang keras, asal-asalan bahkan menakutkan. Islam harus disampaikan dengan cara-cara yang bijak agar tujuan hakiki dari ajaran tersebut bisa tercapai. Kita tidak bisa hanya menyampaikan atau mengamalkan ajaran Islam sebatas aspek penegakan syariat semata. Tetapi juga harus memperhatikan cita-cita ideal yang menjadi intisari ajaran Islam itu sendiri. Seperti yang dijelaskan Jalaluddin Rakhmat bahwa kita bisa mengamalkan ajaran Islam seperti menyuarakan azan: bisa indah, bisa buruk. Cara kita mengamalkan ajaran Islam akan mempengaruhi sikap orang lain terhadap Islam. Mungkin jika kita ingin mengamalkan ajaran Islam, harus melewati tiga gerbang seperti yang diungkapkan Al Ghazali. Gerbang pertama bertanya apakah yang mau dikerjakan itu adalah benar-benar ajaran Islam, berdasarkan al Qur’an dan Sunnah? Bila lulus gerbang pertama, anda memasuki gerbang kedua: apakah yang anda amalkan itu  bermanfaat untuk anda dan kaum Muslimin? Dari gerbang kedua maka harus memasuki gerbang ketiga: apakah anda sudah menemukan cara terbaik untuk menjalankan amal itu?

Muhammad Abduh pernah mengatakan bahwa Islam tertutup oleh orang-orang Islam. Lebih tepatnya keindahan syariat Islam sering tertutup oleh cara orang mengamalkan ajaran Islam itu. Bagaimana orang bisa tertarik untuk menegakkan sistem kenegaraan Islam apabila yang tampil sebagai Negara Islam adalah gambaran menakutkan tentang Islam. Apakah kita suka tinggal di Negara Islam yang menembaki laki-laki yang tidak berjanggut dan melarang perempuan bekerja? Apakah kita suka kepada Negara Islam yang melakukan pengadilan tanpa memberi peluang bagi terdakwa untuk membela diri? Apakah kita suka dengan sistem politik Islam yang tidak memberikan kebebasan warga negaranya untuk menyampaikan pendapatnya dan menjalankan agama sesuai dengan apa yang dipahaminya? Apakah kita suka pada Republik Islam yang mencambuk orang di depan umum dan membiarkan kekayaan Negara digunakan untuk kepentingan segelintir orang? Kesimpulannya adalah apakah kita suka dengan sang muazin yang meneriakkan azan yang jelek di tengah-tengah kaum kafir?

By: Indra Trisnajaya

Categories: Uncategorized | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Islam Formalitas

  1. Elman

    Saya suka ceritanya
    Mohon izin Copas y :)

  2. Terima kasih banyak. Artikel ini untuk umum. Diperbolehkan untuk meng-copy asalkan menunjukkan identitas penulisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: