PRASANGKA YANG MEMBUAT KITA TERLENA


Oleh: Indra Trisnajaya

Disadari atau tidak, banyak di antara kita tertipu oleh sangkaan kita sendiri. Acapkali kita menyangka bahwa kita adalah orang yang terbaik di antara kawan-kawan kita. Dalam lingkungan keluarga terkadang kita juga merasa bahwa kita adalah orang yang paling baik. Kita merasa seperti itu biasanya karena kita merasa amal ibadah yang telah kita lakukan lebih banyak atau lebih khusyuk dari orang lain. Padahal harus diketahui bahwa prasangka-prasangka seperti itulah yang menipu dan menjatuhkan kita ke derajat yang paling rendah di sisi-Nya. Karena sesungguhnya Allah swt tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.

Al Qur’an melukiskan prasangka seperti ini seperti fenomena fatamorgana di tengah padang pasir. Kita melihat fatamorgana yang kita sangka adalah oase yang menyegarkan. Katakanlah : Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang  yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. (QS. Al Kahfi: 103-104). Dalam tafsir Al Mishbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa orang-orang tersebut merupakan golongan orang-orang yang tidak menyadari kerugiannya, bahkan merasa diri telah berbuat sebaik mungkin, atau merasa diri telah beruntung, padahal sebenarnya mereka  bukan sekadar salah seorang yang merugi, tetapi orang yang paling rugi. Inilah yang banyak terjadi bagi mereka yang terpesona lagi terpukau dan terpaku dalam keindahan prasangka diri. Quraish Shihab mengumpamakan orang-orang tersebut seperti seorang yang berhasil mencuri dan memperoleh keuntungan materi, dia menduga telah meraih keuntungan padahal justru kerugian yang ia dapat. (Tafsir Mishbah, vol:8)

Orang yang Berprasangka Dirinya Alim

Salah satu dari mereka yang tertipu oleh sangkaan sendiri adalah  orang yang menyangka bahwa dirinya adalah orang yang alim, orang yang pandai, orang yang berilmu. Hal ini mungkin karena ia berasal dari orang-orang yang mempunyai latar pendidikan yang tinggi sehingga membuat ia merasa paling pintar di antara orang-orang di lingkungannya. Padahal Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berkata: Aku ini alim, maka sebenarnya dia itu bodoh.” (Biharul Anwar 2: 110).

Ada kisah yang diriwayatkan dari sebuah hadits bahwa Nabi Musa as pernah diperintahkan Allah swt untuk belajar kepada Nabi Khidir as. Pada suatu ketika Musa as berpidato di hadapan Bani Israil. Lalu seseorang bertanya kepada beliau, “Ayyun naasi a’lam? Siapakah orang yang paling pandai? Musa menjawab, “Ana a’lamu. Akulah yang paling pandai”. Karena jawabannya tersebut, Allah swt menegur Nabi Musa as, “Ada seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang lebih berilmu dari pada kamu. Sekarang ia berada di antara pertemuan dua laut.” Lalu terjadilah kisah Nabi Musa berguru kepada Khidir seperti yang diabadikan dalam Al Qur’an. (Shahih Muslim: Kisah Beberapa Rasul).

Seorang sufi besar dari Mesir, Ibnu ‘Athaillah, mengatakan dalam kitabnya Al Hikam, “Seorang mukmin jika dipuji, maka ia malu kepada Allah karena ia dipuji dengan sifat yang tidak ada pada dirinya.” Ya, mukmin yang sejati tentunya akan merasa malu apabila dipuji, karena ia merasa tidak berhak menerima pujian manusia. Ia pun merasa tidak pantas mendapatkannya. Kerena sesungguhnya hanya Tuhan-lah yang berhak dipuji karena kebesaran-nya, keagungan-Nya.

Prasangka-prasangka yang baik dan yang indah, yang kita tujukan kepada diri kita sendiri seringkali menipu dan menjerumuskan kita kepada kesombongan yang tidak kita sadari. Betapa sering dari kita yang menyangka bahwa kita telah banyak berbuat kebaikan, banyak berbuat amal seperti bersedekah, sholat tahajud, rajin beribadah, merasa pintar, merasa paling takwa. Kita juga terkadang menyangka kita telah khusyuk dalam beribadah, merasa tawadhu atau menggolongkan kita ke dalam orang-orang yang rendah hati. Padahal sesungguhnya kita telah menipu diri kita sendiri dengan prasangka tersebut. Kita tidak sadar bahwa hal tersebut telah membuat kita terjatuh dan tercela ke dalam fatamorgana-fatamorgana seperti yang telah dilukiskan Qur’an.

Alangkah ruginya jika amal ibadah yang telah kita lakukan selama ini berakhir kepada fenomena fatamorgana yang berujung kepada sikap yang tercela karena prasangka-prasangka kita yang sombong, cenderung memuliakan diri kita sendiri. Namun seyogyanya kita harus segera menyadari kekeliruan kita tersebut. Hal yang harus kita ketahui bahwa kita bisa terjatuh ke dalam jebakan fatamorgana tersebut karena kita tidak mengembalikan segala kebaikan yang kita peroleh itu kepada Sang Pemberi karunia, yaitu Allah swt.

Al Qur’an melukiskan riwayat Qarun yang hidup pada masa Nabi Musa as. Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta karena ilmu yang ada padaku.” (QS.Al Qashash: 78). Tidak lama setelah itu sangkaan dan kesombongan Qarun menyebabkan dia terbenam ke dalam bumi selama-lamanya. Maka Kami bebamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. (QS.Al Qashash: 81).

Sebaliknya Al Qur’an juga menceritakan Nabi Sulaiman as, yang tak ada seorang pun yang bias menyamai kekayaannya. Al Qur’an menyebutkan: Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana (Ratu Balkis) itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, “Hadza min fadhli rabbi. Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkarinya” (QS.Al Naml: 40)

Orang yang Menyangka Dirinya Tawadhu

Orang seringkali juga tertipu dengan amal-amal ibadahnya sendiri karena ia menyangka bahwa ibadahnya telah sempurna. Seperti orang yang menyangka dirinya sudah bersikap tawadhu dibanding dengan orang lain. Ia tidak sadar bahwa prasangka tersebut telah berubah menjadi sifat ‘ujub. Ibnu ‘Athaillah berkata, “ Barangsiapa yang merasa rendah hati (tawadhu), berarti ia benar-benar sombong. Sebab tidak mungkin seseorang itu merasa tawadhu kecuali ia merasa besar atau tinggi. Karena itu jika kalian menetapkan bahwa dirimu itu benar, maka kalian benar-benar sombong. Apabila kalian menetapkan diri bertawadhu padahal dirimu seorang besar dan tinggi, maka itu berarti dirimu benar-benar telah menjadi orang yang mutakabbir. Orang yang tawadhu bukanlah orang yang ketika bertawadhu merasa bahwa dirinya telah merendahkan diri. Tetapi seorang yang tawadhu adalah orang yang  bila berbuat sesuatu merasa dirinya belum layak mendapatkan kedudukan itu.” (Al Hikam, hikmah 238-239).

Dikisahkan dalam kitab Durud i Qasimi, Imam Ali menerima seorang berandal yang telah bertaubat untuk menjadi muridnya. Belum lama murid itu belajar, Imam Ali berkata kepada murid-muridnya yang lain, “Orang ini akan menjadi manusia suci sesudah ia meninggalkan tempat ini, dan kekuatannya tidak aka nada yang menandingi.” Imam Ali lalu meletakkan tangan kanannya di atas kepala  murid barunya itu. Murid-murid yang lain saling bertanya di antara mereka sendiri; mengapa mereka tidak mendapat restu seperti murid baru itu sehingga dalam sesaat mereka juga dapat memperoleh barokah dari sang imam.

Imam Ali mengetahui kegelisahan murid-muridnya tersebut. Beliau berkata, “Orang ini memiliki kerendahan hati dan karenanya aku dapat mengalirkan barokah ke dalam dirinya. Kegagalan kalian untuk berendah hati telah mempersulit kalian untuk menerima barokah, karena kalian menutup diri kalian. Jika kalian menghendaki bukti atas keangkuhan kalian, dengarkanlah apa yang akan kusampaikan ini: Orang yang rendah hati ini menganggap dirinya tidak dapat belajar tanpa jerih payah yang berat dan waktu yang lama. Akibatnya ia dapat dengan mudah dan cepat belajar. Orang yang angkuh menganggap dirinya sudah layak menerima barokah, padahal dirinya mungkin belum pantas untuk menerimanya. Memang menyedihkan menjadi manusia yang belum layak menerima barokah. Namun yang lebih menyedihkan lagi adalah manusia yang merasa bahwa ia adalah manusia yang rendah hati dan tulus, padahal kenyataannya tidak demikian. Tetapi yang paling menyedihkan dari semua itu adalah manusia yang tidak memikirkan sesuatu hal pun sampai-sampai apabila ia melihat orang lain, ia merasa dirinya jauh lebih unggul, sehingga perbuatannya tidak terkendalikan lagi.

Kita tentu tidak ingin menjadi seorang Qarun yang dibenamkan ke perut bumi akibat kesombongan, kita juga tidak ingin amal ibadah kita yang telah kita tunaikan selama ini menjadi tidak bernilai di hadapan-Nya. Sesungguhnya untuk menghindari itu semua kita harus menjauhkan diri kita dari prasangka-prasangka baik dan indah-indah yang kita tujukan kepada diri kita sendiri. Karena hal tersebut dapat merusak apa yang telah kita perbuat. Sikap yang paling baik adalah kita harus berprasangka bahwa kita belum berbuat apa-apa, dan selalu menisbahkan segala bentuk pujian dan kebaikan hanya kepada Allah swt. Karena sesungguhnya hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui kadar keimanan seseorang, Allah-lah yang mengetahui sejauh mana pengabdian kita dan motivasi kita dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Mudah-mudahan kita tidak terperosok ke dalam prasangka hingga membuat kita terlena.

(Tulisan ini pernah diterbitkan oleh Buletin Jumat P3M STAIN SAS BABEL)

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: