Etika Politik, Suatu Keniscayaan

By: Indra Trisnajaya

Seorang filosof Yunani terkemuka Aristoteles pernah mengatakan bahwa politik merupakan ilmu yang paling tinggi kedudukannya karena tujuan dan target akhir politik adalah bagaimana menyelenggarakan kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang sehat sehingga semua warga negara merasa dilindungi dan dibela hak-haknya untuk tumbuh menjadi pribadi sehat sesuai minat dan bakatnya. Selain itu para filosof juga pada umumnya memandang politik sebagai seni dan ilmu yang sangat terhormat dan karenanya para politisi haruslah memiliki kualitas moral dan intelektual yang tinggi. Menurut para pemikir bahwasanya prasyarat politik adalah kualitas moral yang harus dimiliki oleh pelaku politik di samping kompetensi dan profesionalitas. Hal ini tentu melahirkan argumen lanjutan  seperti yang disampaikan Komaruddin Hidayat: “Bila para politisi tidak bermoral dan tidak memiliki kapasitas intelektual, mana mungkin mereka bisa mendidik dan mendesain masyarakat agar hidup dan berkembang menjadi masyarakat yang beradab?”

Urgensi etika atau moral menjadi suatu keniscayaan tatkala orientasi politik yang dijalani bermuara untuk menciptakan tatanan bangunan kemasyarakatan yang beradab dan sejahtera. Dalam konteks politik yang ideal tentunya semua sepakat bahwa untuk membangun civil society yang berasaskan kebijakan kemasyarakatan, aspek moralitas, etika santun dan sportifitas harus dijunjung tinggi. Dalam penjelasan mengenai etika berpolitik, Komaruddin Hidayat mengatakan adanya kemiripan antara dunia politik dan dunia sepak bola. Kedua dunia tersebut dalam prosesnya sama-sama bersifat kompetitif dan melahirkan dua pihak: yang kalah dan yang menang. Dalam setiap pertunjukannya keduanya menjadi sebuah festival yang mencakup berbagai dimensi seperti unjuk kecerdasan berupa taktik dan tipu muslihat, bertahan, menyerang, teriak suporter sampai luapan emosional. Namun diharapkan  masing-masing bersifat kesatria dan sportif demi terciptanya susana yang etis dan beradab. Penonton tentu akan lebih senang melihat setiap kompetisi sepak bola atau kompetisi politik yang apik dan tidak menimbulkan konflik.

Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan kualitas dunia perpolitikan kita?  Dalam hal ini kita harus jujur mengakui bahwa dunia politik kita masih memerlukan pendidikan etika secara serius dan kontinuitas. Kecurangan, politik uang dan korupsi yang semakin laten disinyalir masih berakar kuat dan mentradisi dalam tubuh politik Indonesia. Hampir di setiap festival pemilihan kepala daerah di seluruh Indonesia terjadi kecurangan dan kerusuhan yang menyeret masyarakat untuk terjun ke dalam konflik. Dan tak jarang pula konflik politik tersebut melebar menjadi konflik yang bernuansa SARA.

Selain itu banyaknya politisi yang bertarung dalam dunia politik ternyata menggunakan cara-cara yang tidak etis. Serangan fajar, money politic, saling serang antar kandidat hingga upaya memobilisasi massa untuk membatalkan rekapitulasi suara kerap kali menghiasi halaman utama media massa. Hal tersebut bisa segera kita ketahui karena politisi yang bertarung tersebut tidak mempunyai mental dan moral yang baik sebagai seorang politisi sejati. Sang politisi yang kalah selalu merasa tidak puas dan selanjutnya tradisi menggugat yang menang pun terjadi. Sebaliknya dalam pesta politik kita selalu mendengar isu seputar politik uang yang dilakukan kandidat politisi yang memenangkan kompetisi. Hal-hal tersebut semakin mempertegas kecenderungan politik pragmatis yang selalu menjadi orientasi para politisi. Komaruddin Hidayat lebih mempopulerkan gaya politik tersebut dengan istilah politik panjat pinang. Ia mengatakan:

Kultur politik Indonesia persis tercermin dalam lomba panjat pinang yang amat digemari rakyat tiap memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Di sana tak ada pemenang sejati, karena konsep kemenangan hanyalah akibat kejatuhan yang lain dan itu pun dengan cara menginjak sesama teman sendiri.

Pernyataan Komaruddin tersebut menurut penulis cukup menggambarkan bagaimana proses festival panggung politik kita yang masih saja belum jauh dari carut-marut. Walaupun pihak panwaslu melaporkan bahwa penyelenggaraan pesta demokrasi berjalan sukses, tetapi tidak bisa dipungkiri kita kerap mendengar sentilan miring kecurangan dan politik uang yang terjadi. Penulis pun dalam hal ini tidak bermaksud menyalahkan pihak panwaslu atau panitia pemilu karena penulis yakin mereka telah berusaha keras dalam menyukseskan setiap kegiatan pemilu. Yang menjadi titik tekan adalah bagaimana para kandidat yang bertanding untuk bersikap legowo dan etis dengan mempertimbangkan standar hati nurani: apakah yang dilakukan itu benar?

Sisi-sisi negatif perpolitikan yang telah diungkapkan tersebut sama sekali tidak bermaksud mendiskreditkan atau bersikap pesimis terhadap dunia politik kita. Hal tersebut justru untuk mendiagnosa penyakit apa yang sedang terjadi dan mencari akar permasalahannya.

Melihat realitas politik yang terjadi saat ini, tentu kita segera sadar akan urgensi penerapan etika politik. Etika politiklah yang mengarahkan dan menciptakan institusi-institusi yang lebih adil (Paul Ricoer: 1990). Haryatmoko mempertegas bahwa tujuan etika politik adalah untuk kritis terhadap praktek kekuasaan. Karena politik yang dijalankan tanpa etika akan selalu menimbulkan konflik dan berorientasi pada kemenangan dan kekuasaan bukan pada semangat untuk membangun bersama.

Seperti yang dikemukakan Yudi Latif bahwa realitas di lapangan membuktikan politisi kita saat ini cenderung berorientasi pada kekuasaan dan keuntungan sehingga menimbulkan gambaran politik yang pragmatis dan oportunis. Menurut hemat penulis, gaya politik para politisi tersebut semakin memperburuk citra politik negeri ini. Mereka lebih mengutamakan bahasa ekonomi dan bahasa politik pragmatis dalam pergulatan politik tanah air. Bahasa politik pragmatis selalu bertanya, siapa yang menang? (who is winning?). Sedangkan bahasa ekonomi bertanya, di mana untungnya? (where is the bottom line?). (Yudi Latif: 2009)

Apalagi saat ini genderang kompetisi kandidat kepala daerah sudah mulai ditabuh, maka kita harapkan masing-masing peserta kompetisi lebih beretika dalam menjalankan pesta politik tersebut. Kita mengharapkan para politisi kita berlomba menampilkan nuansa kampanye yang lebih edukatif, transparan dan harus sportifitas.

Sudah seyogyanya para politisi beralih dari politik oportunis pragmatis ke politik etis. Tidak lagi menggunakan cara-cara miring untuk mencapai kemenangan serta berlomba menampilkan kualitas moral dan intelektual kandidat. Jika selama ini para politisi hanya menjual janji dan promosi, mulai saat ini “barang dagangan” harus diganti dengan menjual platform-platform (gagasan) dan program kerja nyata yang memihak kalangan grassroot. Ide-ide yang ditawarkan harus tidak mengabaikan konsep bagaimana membangun kebijakan publik yang tidak kontra dengan keinginan masyarakat. Karena masyarakat sekarang sudah jenuh akan perilaku penguasa yang seringkali berkoalisi dengan pengusaha. Apalagi di Bumi Serumpun Sebalai ini yang tidak lama lagi akan menggelar hajatan politik, tentunya kalangan masyarakat mengharapkan akan tampilnya para kandidat calon pemimpin yang mampu menampilkan gagasan brilian, kompeten, professional, santun dan mempunyai moral yang baik.

Dengan berlandaskan politik yang beretika tentunya tayangan festival pesta politik yang nantinya diselenggarakan mampu menjadi suatu tontonan yang memuaskan semua kalangan. Antara pihak yang menang dan yang kalah tidak terjadi ketegangan yang memicu konflik horizontal. Masing-masing pihak bisa bekerjasama dalam membangun Negeri Serumpun Sebalai tercinta ini. Hingga pada akhirnya secara langsung maupun tidak para politisi telah mewariskan pendidikan etika dalam politik.

(Tulisan ini pernah dimuat di harian Radar Sungailiat tgl 28 Desember 2011)

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: